2nd T-POMI
2024, 31 Januari
Share berita:

Bandung, mediaperkebunan.id – Penanggulangan Ganoderma pada sawit butuh andil Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma boninense sudah menyebar ke mana-mana, mempengaruhi bisnis sawit para petani lokal.

Tak kenal milik perusahaan besar atau rakyat petani, Ganoderma serang semua perkebunan sawit. Dalam acara Simposium Internasional Ganoderma hari kedua (31/01) yang diselenggarakan oleh Media Perkebunan, P3PI, dan BPDPKS, para petani sawit berkumpul , saling berbagi pengalaman soal penyakit mematikan sawit tersebut.

Slamet Kasiri dan Mahmudin, petani kelapa sawit anggota KUD Sadar Sejahtera Lubuk Linggau, Sumsel, menceritakan pengalaman kebunnya terkena Ganoderma. Dalam ceritanya, Slamet Kasiri dan Mahmudin ceritakan bagaimana awal mula timbulnya Ganoderma timbul pada tanaman sawitnya.

“Kejadian awalnya tiga tahun yang lalu. Saya tidak tahu penyebabnya tiba-tiba pokok kelapa sawit tumbang begitu saja. Awalnya kami menyangka kena angin. Ternyata pangkal batangnya busuk dan setelah dibongkar banyak jamur pada akar,” kata Slamet di sela-sela Simposium Internasional Ganoderma yang diselenggarakan Media Perkebunan , P3PI dan BPDPKS.

Total kebun anggota KUD Sadar Sejahtera yang merupakan kebun plasma dengan sistim satu atap mencapai 5.000 ha. Sekitar 5% nya sudah tumbang terkena Ganoderma, ada juga yang sudah terpapar. Tindakan yang dilakukan sesuai dengan rekomendasi perusahaan inti adalah melakukan isolasi tanaman tumbang dan yang terpapar.

Caranya dengan menggali lubang  3 x 3 meter disekelilng tanaman yang terkena. Tindakan ini baru dilakukan dalam satu bulan terakhir. Perusahaan melakukan sensus Ganoderma dengan menggunakan drone.

Isolasi sudah dilakukan pada 100 batang. Biaya isolasi semua menjadi beban petani dan biaya perjam alat berat untuk melakukan isolasi mencapai Rp500.000/jam.

Baca Juga:  Eratani Jalin Kemitraan dengan Bank BJB, Berikan Fasilitas Kredit ke Petani Hingga Rp100 Juta

Dalam satu jam, rata-rata bisa melakukan isolasi 7 pokok tergantung kondisi kebun. “Perusahaan menyuruh isolasi seluruhnya di kebun itu. Pokok yang mati menyebar dalam satu blok. Kita keberatan karena biayanya cukup besar. Harapan kami adalah ada bantuan dana BPDPKS bagi kami petani untuk mengendalikan penyakit ini,” kata Slamet.

Penyakit ini sangat membebani petani karena populasi tanaman menurun sehingga produktivitas ikut menurun. Dari 143 pokok, maka diblok yang terkena tinggal 117 pokok/ha. Sekitar 26 pokok yang tumbang. Produktivitas yang semula 28 ton TBS/ha/tahun turun jadi 22-23 ton TBS/ha/tahun.

Tanaman yang terkena Ganoderma merupakan generasi pertama, sebelumnya merupakan kebun karet. Bahkan tanaman yang baru ditanam 3 tahun saja sudah terkena dan tumbang.

Mengingat besarnya biaya penanggulangan Ganoderma pada perkebunan sawit, para petani butuh perhatian lebih dari badan perkepentingan, misalnya BPDPKS.