Polman, mediaperkebunan.id – Ratusan petani kakao di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) mendapatkan pencerahan berupa literasi keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Sulawesi Selatan Barat (Sulselbar).
Proses literasi keuangan tersebut, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman RRI, Senin (11/8/2025), dilakukan OJK Sulselbar di area pergudangan PT Bumi Surya Selaras (BSS), Kabupaten Polman, belum lama ini dan diikuti oleh 150 petani kakao setempat.
Perlu diketahui bahwa PT BSS ini merupakan perusahaan milik pengusaha setempat bernama H. Samsul Mahmud. PT BSS sudah lama bergerak dalam perniagaan berbagai komoditas perkebunan kakao, kemiri, dan kopra kelapa.
Hadir dalam kegiatan ini, Anggota DPD RI Jufri Mahmud, Staf Ahli Bupati Polewali Mandar Bidang Ekonomi dan Keuangan H. Muhammad Akbar, Direktur Utama PT Bumi Surya Selaras, serta sejumlah pejabat pemerintah daerah dan pimpinan pelaku industri jasa keuangan.
Kegiatan literasi keuangan ini menjadi bagian dari rangkaian penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara industri jasa keuangan (OJK) dan PT Bumi Surya Selaras tentang penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) kepada para petani kakao.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman menyeluruh kepada petani terkait pengelolaan keuangan, akses pembiayaan, serta perlindungan dari praktik keuangan ilegal.
Kepala OJK Sulselbar Moch. Muchlasin melalui Kepala Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Amiruddin Muhidu, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata peran strategis OJK dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, OJK hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ungkap Amiruddin.
Ia juga mengingatkan pentingnya literasi keuangan bagi petani kakao agar tidak terjebak dalam praktik investasi ilegal yang kerap menyasar kelompok masyarakat produktif.
“Kegiatan pelatihan diharapkan mampu menciptakan petani yang tidak hanya unggul dalam produksi, tetapi juga cerdas secara finansial,” tegas Amiruddin Muhidu.

