Medan, Mediaperkebunan.id – Penggunaan pesawat nirawak atau drone membuat kinerja para pekerja di lingkungan Holding PTPN menjadi lebih efesien dan efektif, terutama saat harus melakukan pengecekan ke perkebunan kelapa sawit yang dikelola.
“Pesawat nirawak atau drone ini membuat saya dan tim lebih gampang lagi memantau kebun sawit, engak perlu lagi kami jalan kaki atau menggunakan sepedamotor untuk mengecek kebun,” ucap Helmi Zulfan, Penjabat (Pj) Asisten Kepala (Askep) Unit Kebun Gunung Para, PTPN IV Regional 1.
Hal itu diungkapkan oleh alumni Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Sumatera Utara (USU) ini saat berbicara di hadapan belasan generasi muda dalam sebuah diskusi dan dilanjut acara berbuka puasa di Warung Mie Ayam Jamur H. Mahmud, Jalan Abdullah Lubis, Medan, Sabtu (22/3/2025).
Di acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Mapping USU tersebut, Helmi Zulfan mengingat dengan jelas bagaimana dirinya dan tim harus mengecek hektar demi hektar kebun sawit dengan cara manual: dilihat langsung dan kemudian dicatat.
“Tujuannya, misalnya, salah satunya untuk mengetahui bagaimana proses pemupukan dan berapa dosisnya. Itu dilakukan sebelum ada pesawat nirawak, sekitar tahun 2010 sampai 2016,” ucap Helmi Zulfan yang mengaku bekerja di PTPN mulai tahun 2010.
“Eh, sudah dicatat di kertas, dan kaki rasa sudah detail, ternyata masih ada yang miss juga. Namun berbeda setelah pakai drone, akurasinya tinggi. Pekerjaan kita menjadi lebih efesien setelah pakai drone,” sambung Helmi Zulfan.
Sementara itu Nouva Liza, seorang Subject Matter Expert dari LPP Agro Nusantara, mengungkapkan tidak gampang untuk menerbangkan pesawat nirawak, termasuk untuk kepentingan memantau perkembangan perkebunan kelapa sawit.Menurutnya, seorang pilot pesawat nirawak harus memiliki lisensi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk diperbolehkan menerbangkan pesawat nirawak.
“Saya sendiri harus menempuh berbagai ujian untuk mendapatkan lisensi menerbangkan drone. Atau istilah sehari-hari, kita mesti punya SIM agar bisa jadi pilot atau pengendali drone,” ucap alumni Faperta USU ini.
“Lisensi saya sendiri habis di bulan Maret 2025 ini. Nanti saya harus ikut ujian lagi untuk dapatkan lisensi terbaru,” sambung perempuan tangguh yang sudah malang melintang di berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit ini.
Nouval Liza mengungkapkan kalau pesawat nirawak punya banyak manfaat bagi pelaku usaha perkebunan kelapa sawit, dari mulai untuk mengetahui titik koordinat perkebunan, urusan pemupukan, mengetahui kondisi lahan perkebunan, dan lainnya.

