Jakarta, Mediaperkebunan.id
Dirjen Perkebunan sudah dua kali bertemu dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk alokasi 1% kapasitas pembibitan mereka digunakan bagi komoditas perkebunan lain, disumbangkan ke Bank Benih Perkebunan (Babebun) dan dibagikan kepada rakyat. “Dalam dua kali pertemuan ini respon mereka sangat positif, mereka bersedia dan sama sekali tidak ada masalah ,” kata Andi Nur Alam Syah, Dirjen Perkebunan pada rapat dengar pendapat eselon 1 Kementan dengan Komisi IV DPR RI.
Saat ini Dirjenbun sedang menyusun peraturan tentang alokasi 1% kapasitas pembibitan perusahaan besar kelapa sawit untuk Babebun. Dasar aturanya adalah UU nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan pasal 57 mengenai kemitraan usaha perkebunan. Ditjenbun juga akan bertemu dengan Direktorat Pencegahan KPK untuk analisa risiko korupsi kebijakan Babebun.
Pasal 57 UU Perkebunan mewajibkan perusahaan perkebunan swasta memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat 20% dari luas areal yang diusahakan. Ditjenbun berkoordinasi dengan Deputi Pangan dan Agribisnis, Kemenko Perekonomian untuk membentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan yang akan menghimpun dana dari kewajiban kemitraan ini untuk membangun perkebunan.
Pembangunan perkebunan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada APBN. Dengan BPDP maka dana kemitraan, CSR dan lain-lain bisa masuk untuk membangun perkebunan. Kebutuhan benih untuk peremajaan saja Rp16 triliun sedang APBN Ditjenbun sekitar Rp1-2 triliun /tahun sehingga butuh waktu lama kalau mengandalkan dana APBN.
Perusaaan perkebunan kelapa sawit diminta mengalokasikan 1% kapasitasnya bukan untuk kelapa sawit karena dengan dana PSR BPDPKS petani sudah bisa mengakses sendiri, tetapi konversi untuk komoditas perkebunan lain seperti kelapa, kopi, kakao. Karena tidak punya pengalaman mereka bisa melakunya lewat KSO dengan penangkar benih perkebunan disekitarnya.
“Dengan cara ini kita gairahkan kembali bisnis penangkar mandiri perkebunan yang sempat agak lesu. Penangkar yang bisa ikut KSO harus sudah disertifikasi oleh Ditjebun sehingga benih yang dikeluarkan bersertifikat,” kata Andi Nur.
Nursery modern yang dibangun Ditjenbun di Batang, Jateng tahun ini menghasilkan 1-2 juta benih kelapa. Sedang di Cianjur nursery kopi 4 juta batang.

