Ancaman yang secara tidak langsung dipengaruhi perubahan iklim adalah degradasi sumber daya lahan. Karena terjadinya fenomena cuaca yang tidak menentu disertai praktek-praktek pembukaan lahan dan penerapan teknologi yang tidak semestinya yang dalam jangka pendek dapat mengakibatkan penurunan bahkan kegagalan produksi.
Hal tersebut dikatakan Staf Ahli Bidang Lungkungan Kemeterian Pertanian Mukti Sardjono mewakili Menteri Pertanian dalam International Conference on Oil Palm and Enviroent (ICOPE) ke-5 2016 di Nusa Dua, Bali (17/03). Mentan menyambut baik isu perubahan iklim yang diangkat pada ICOPE kali ini.
Mukti menyakini bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi tidak hanya untuk kelapa sawit, namun juga untuk semua sektor pembangunan lainnya. “Ke depan kita harapkan industri kelapa sawit akan menjadi panutan untuk terwujudnya praktek-praktek pembangunan berkelanjutan,” jelas Mukti.
Mukti menyatakan, kelapa sawit ikut berperan dalam pelestarian lingkungan, terutama dalam memfixsasi CO2 menjadi O2 serta mengubah lahan terlantar menjadi kebun kelapa sawit yang lebih memberikan arti ekonomi. Pada 2015 perkebunan kelapa sawit diperkirakan mampu memfixsasi CO2 sebesar 136,8 juta ton CO2 ekuivalen menjadi 438 juta ton oksigen. YR

