18 March, 2020

Kabul (47) bisa dibilang petani sawit yang berbeda dari petani lainnya. Pasalnya, dia memiliki keinginan yang kuat untuk tidak bergantung secara terus menerus dengan tanaman sawitnya. Apalagi harga sawit sangat fluktuatif sehingga ketika harga turun menjadi sebuah petaka baginya. Akhirnya, dia memutuskan untuk menanam sayuran disela tanaman sawitnya.

Ide bertani sayur ini pun sebenarnya muncul secara alami didalam benaknya. Dia hanya menjalankan sesuai pengetahuan yang dimiliki. Akan tetapi hasil tanaman sayurannya belum sesuai dengan harapan. Hasil panennya tidak banyak, bahkan tidak sebanding dengan modal yang telah dikeluarkan untuk bibit dan kebutuhan perawatan.

Putus asa dengan kegagalan ini? Ternyata tidak bagi Kabul. Dia bahkan kembali mencoba untuk bercocok tanam sayuran lagi. Namun bedanya, dia bersama dua orang rekannya berkomitmen melaksanakan konsep pertanian terpadu yang tidak hanya bertani tetapi juga beternak. Konsep pertanian terpadu ini dia dapatkan dari pelatihan yang diperolehnya dari tempat belajar Petanian Terpadu Taman Edukasi Pertanian Abatani di Mojokerto, Jawa Timur yang difasilitasi oleh CSR BGA Group Kalteng.

Pelatihan Pertanian Terpadu ini diadakan dalam rangka mewujudkan masyarakat binaan yang sejahtera dan mandiri serta mendukung program ketahanan pangan pemerintah daerah. Waktu itu, pelatihan berlangsung selama 10 hari, diikuti oleh 4 orang perwakilan kelompok masyarakat tani binaan BGA Group dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Diharapkan, peserta ini dapat menjadi trainer atau pembimbing pertanian terpadu bagi masyarakat didaerahnya masing-masing.

Pertanian terpadu dapat membuat petani untung karena hasil budidayanya tidak komoditas tunggal. Selain itu pertanian terpadu juga dapat menciptakan siklus berjalan, hemat dalam pembiayaan, memaksimalkan pendapatan. Dalam menjalankan pertanian terpadu, otomatis petani juga belajar menjalankan kewirausahaan. Karena dari hulu harus mengelolah lahan dengan pola pertanian, peternakan dan perikanan serta hilirnya memasarkan hasil produk budidaya.

Sepulang dari pelatihan ini, Kabul beserta rekannya langsung mengimplementasikan pengetahuannya. Berjalan kurang lebih 4 bulan, hasilnya pun mulai tampak. Misalnya sayuran ketimun, jagung, terong dan cabai. Komoditas sayuran ini sudah sekali dipanen, hasilnya cukup membantu kebutuhan hidupnya. Selain bercocok tanam sayuran, Kabul juga beternak ayam, kambing dan ikan. Semua diintegrasikan dilahan tanaman sawit seluas 2 hektar miliknya.

Kabul mengatakan bahwa, tanamannya ada yang bisa dipanen mingguan, bulanan, tiga bulanan dan enam bulanan. Tanaman sayuran seperti Bayam, kangkung, ketimun dapat dipanen setiap minggu dengan rotasi tanaman yang direncanakan. Misalnya, sayuran ketimun, dalam 5 minggu Kabul sudah dapat memanen hasilnya. Ukurannya dalam satu ‘bedengan’ sekitar 15 meter dan lebar 80 cm. “Ketimun sudah saya panen pak, hasilnya kurang lebih 117 kg, Alhamdulillah dijual kepada masyarakat sekitar kurang lebih dapat Rp.1,4 jutaan.” Ujar Kabul.

Setelah berhasil menerapkan Pertanian Terpadu. Kini Kabul aktif melakukan training kepada petani sekitar. Dia tidak segan memberi pengetahuan yang dimilikinya dengan harapan agar sama-sama terhidar dari dampak turunnya harga TBS. Kadang lahan Pertanian Terpadu milik Kabul juga sering dikunjungi berbagai instansi atau lembaga untuk studi banding. “Setiap minggu selalu ada yang datang pak di sini. Kadang ada anak SMK Pertanian yang magang di sini. Saya senang dapat membantu petani sekitar untuk menerapkan Pertanian Terpadu ini di lahannya masing-masing.” Ujar Kabul.

Kabul mengaku semua yang dia tanam merupakan tanaman organik atau tanpa pestisida. Bahkan, pengendalian hamapun ia pun menggunakan pestisida organik yang bersumber dari tanaman Kenikir, Paitan, Tuba dan Cocok botol. Menariknya, dengan pengendalian hama menggunakan bahan alami ini membuat hasil tanamannya tumbuh subur dan tidak merusak tanaman. Penerapannya sama dengan pestisida kimia, namun bahannya dibuat secara manual (diperas) dan airnya digunakan untuk penyemprotan.

Untuk pupuk, kabul juga menggunakan pupuk kandang serta MOL (Micro Organism Lokal) untuk menyuburkan tanah. Menurutnya MOL inilah yang membuat tanamannya tumbuh subur walaupun di lahan yang berpasir dan berkapur. MOL dia produksi dari bahan-bahan tanaman herbal seperti kunyit, jahe, lengkoas dan lainnya. Dengan MOL ini, tanah akan subur dan ketika ditanam bibit sayuran, hasilnya cukup signifikan produktif.

Pendekatan pertanian yang ramah lingkungan adalah pemurnian tanah atau penyuburan tanah menggunakan pupuk organik. Pupuk organik dapat dibagi menjadi 2 bentuk yaitu pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Salah satu jenis pupuk organik cair adalah yang umumnya dikenal sebagai MOL yang merupakan larutan hasil fermentasi.

Bahan dasar MOL berasal dari berbagai sumber yang mengandung unsur hara mikro, makro, bakteri perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan dan agen pengendali hama/penyakit tanaman. Oleh karena itu, MOL dapat dimanfaatkan sebagai Pupuk organik cair, decomposer atau biang pembuatan kompos, pestisida nabati.

Selain sayuran dan peternakan, Kabul juga menanam tanaman herbal diantara pepohonan sawitnya. Aneka tanaman herbat herbal itu dia manfaatkan untuk pembuatan MOL dan keperluan sehari-hari. Ada juga tanaman bernilai jual tinggi seperti tanaman vanili yang juga terdapat diantara pepohonan sawitnya.

Kabul berharap banyak petani di Desa nya, yakni Desa Kinjil, Kec. Manggao, Kab. Kotawaringin Barat dapat melaksanakan Pertanian Terpadu ini sehingga memberikan alternatif pendapatan bagi masing-masing keluarga petani.

(Visited 192 times, 1 visits today)