Jakarta, mediaperkebunan.id — Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (DPN PERPEKINDO) memastikan ketersediaan santan kelapa dalam negeri mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Hal tersebut disampaikan oleh M. Asrilambo, Waketum DPN PERPEKINDO, yang menegaskan bahwa produksi kelapa nasional saat ini berada dalam kondisi stabil dan mampu menopang peningkatan permintaan masyarakat selama momentum Lebaran.
Menurutnya, kebutuhan santan kelapa biasanya mengalami lonjakan signifikan menjelang Idul Fitri, seiring meningkatnya aktivitas rumah tangga dan industri kuliner dalam memproduksi berbagai makanan khas Lebaran seperti opor ayam, rendang, dan aneka kue tradisional.
“Berdasarkan pemantauan kami di berbagai sentra produksi kelapa, stok bahan baku kelapa dalam negeri dalam kondisi aman dan mencukupi. Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan santan menjelang Hari Raya Idul Fitri,”katanya.
Asri memperkirakan meskipun pasokan kelapa tersedia tetapi harga akan naik. Di Banyuasin lokasi kebun kelapa milik Asri, harga Kelapa tingkat petan sempat turun bulan lalu Rp2900-3000/butir akibat imlek dan tahun baru. Tapi bulan ini beranjak naik lagi 3.100-3.300/butir. Kedepan harga ditingkat petani akan naik karena permintaan untuk pasar tradisional naik sementara petani banyak sudah yang sudah selesai panen.
Pasca lebaran juga diperkirakan harga naik lagi karena permintaan ekspor kelapa bulat kembali meningkat karena berakhirnya libur, perdagangan kembali normal.
Secara terpisah Riduan, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Tanjung Jabar menyatakan kabupaten penghasil kelapa nomor 4 di Indonesia ini secara rutin memasok kebutuhan kelapa untuk Jabodetabek dan Bandung.
Saat ini ada satu pengolah sabut kelapa di Desa Tungkal Kecamatan Tungkal Hilir. Produksinya cocopeat sebesar 300 ton/bulan dan dipasarkan ke perusahaan Hutan Tanaman Industri di Riau dan Tanjabar. Sedang kelapanya dipasarkan ke Jakarta dengan harga Rp4000-5000/butir.
Pengumpul kelapa di Desa Pembengis membeli kelapa dari petani dengan harga Rp4.700/butir dan dipasarkan ke Bandung dan Bogor. Setiap minggu mengirim lewat darat 18 ton kelapa.Petani mengangkut kelapa menggunakan pompon (perahu) dan dibongkar di pelabuhan Marina. Kemudian lewat laut diangkut ke Tanjung Pinang (Kepri), Malaysia dan Thailand. Sedang lewat darat dipasarkan ke Jakarta dan Depok.

