Jakarta, mediaperkebunan.id – Saat ini banyak investor yang akan masuk ke industri kelapa, baik mengolah daging, air, tempurung maupun sabut kelapa. Jika saat ini tidak ada peremajaan dan perluasan tanaman kelapa, maka tahun 2029 akan terjadi perang kelapa, karena masing-masing industri akan berusaha mengamankan pasokan bahan baku. Sukmo Harsono, Ketua Tim Perencanaan dan Percepatan Hilirisasi Kelapa Bappenas/Staf Khusus Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas menyatakan hal ini pada webinar “Peran BRIDA/Bapperida Dalam Hilirisasi Kelapa” yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Kelapa bisa jadi produk langka yang diperebutkan. Tiga hal penyebabnya adalah kebun kelapa yang ada sekarang sebagin besar merupakan warisan dari nenek moyang, ditanam jaman dulu sehingga usianya sangat tua dan produktivitas menurun,” katanya.
Peremajaan terlambat dan sekarang tergopoh-gopoh melakukannya. Belum ada pemangku kepentingan yang secara khusus menangani kelapa. Kondisi ini menyebabkan 3 tahun kedepan bisa terjadi perang kelapa.
Satu tahun terakhir kelapa tiba-tiba menjadi topik yang diberitakan dibanyak media, terutama ketika harganya melambung tinggi. Sebagian masyarakat terutama petani menikmati hasil yang sangat baik. Sisi lain muncul kekuatiran bila ekspor kelapa besar-besaran maka hilirisasi yang sudah berjalan mendapat risiko besar karena kurangnya pasokan.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Rahmat Pambudy, menindaklanjuti road map hilirisasi kelapa membentuk Satgas/Tim Perencanaan dan Percepatan Hilirisasi Kelapa ketika harga kelapa sedang tinggi dan menugaskan tim ke lapangan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Kami menuju sentra produksi kelapa yang sedang giat mengekspor kelapa bulat. Jam 1-2 malam ke pelabuhan dan menyaksikan sendiri gairah dan semangat ekspor kelapa besar sangat besar. Siang hari ketemu kelompok tani, masyarakat, pengepul, pemda dan perusahaan hilirisasi kelapa. Dampak yang muncul dari naiknya harga kelapa adalah Ibu-ibu kaget harga kelapa di pasar menanjak tinggi,” katanya.
Berbagai stake holder didengarkan dan dibagi jadi 2 kluster, yaitu kelompok yang ingin menghentikan ekspor dan kelompok yang ingin supaya ekspor berlanjut. Sukmo berharap semua yang berkepntingan memikiran cara terbaik terkait persoalan besar di depan.
“Ada persoalan besar dibalk melambungnya harga kelapa. Persoalah hilirisasi kelapa tidak bisa dianggap ringan. Ada potensi kelapa bisa tidak ada di negara kita. Kelapa bukan lagi menjadi produk yang tersedia di perkebunan,” katanya.
Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar kedua di dunia, baik dari sisi luas areal tanam maupun volume produksinya. Sejak tahun 2020 Filipina telah melampaui Indonesia dalam volume produksi, dengan nilai ekspor yang lebih tinggi dan diversifikasi produk yang lebih baik. Kondisi Indonesia adalah produktivitas kelapa stagnan 1,1 ton/ha; 98,82% kebun rakyat tradisional tanpa pengorganisasian dan regenerasi. Dengan pohon kecil dan tinggi maka potensi jatuhnya orang yang memanen kelapa sangat tinggi.
Ada 375.000 ha tanaman tidak menghasilkan/tua/rusak dengan kemampuan peremajaan 6000-10.000 ha/tahun. Jangankan untuk perluasan lahan kelapa, meremajakan saja sudah kesulitan. Ketersediaan benih unggul dan pohon induk. Masalah utama ketika akan melakukan peremajaan atau investor ingin membangun kebun baru bukan dana tetapi ketersediaan benih.
Benih unggul kelapa lokal seperti Sri Gemilang di Inhil ternyata kalau ditanam di daerah lain belum tentu cocok. Demikian juga benih yang bagus di Pulau Jawa kalau ditanam di luar Jawa belum tentu cocok. Perlu dibuat benih unggul yang cocok ditanam di seluruh Indonesia.

