13 August, 2020

Studi terbaru Yayasan Inisiatif Dagang Hijau dan Enveritas mengungkap bahwa 90% hasil kopi dari petani di Indonesia dibeli oleh para pengumpul yang jumlahnya mencapai lebih dari 4.000. Kedekatannya dengan petani dan aksesnya terhadap pasar, secara faktual masih dapat dimaksimalkan sebagai daya dukung penting bagi rantai pasok kopi yang berkelanjutan.

Tantangan yang dihadapi pengumpul sekaligus petani kopi saat ini adalah turunnya harga komoditas kopi akibat pandemi global yang berimbas pada terjadinya pembatasan transportasi dan menurunnya kegiatan ekspor kopi ke luar negeri. Saat ini, harga kopi Arabika Indonesia turun yang disebabkan banyaknya pembatalan pesanan karena kedai kopi ditutup atau memiliki jam operasional yang terbatas.

“Kami menyadari para pengumpul memiliki peran dan fungsi penting dalam rantai pasok kopi Indonesia. Pengumpul tidak hanya terlibat dalam jual-beli kopi dengan petani, tetapi dukungan lain juga diberikan pengumpul kepada petani seperti akses terhadap agri-input, akses finansial dan sebagainya. Jika terdapat kolaborasi efektif dan adaptif antara pengumpul, petani kopi dan aktor lain dalam rantai pasok kopi, khususnya dalam situasi pandemi saat ini, diharapkan dapat menjaga stabilitas pasar kopi Indonesia dan mendorong ekosistem bisnis kopi yang berkelanjutan,” kata Paramita Mentari Kesuma, Direktur Eksekutif Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), dalam Diskusi Kopi (DISKO) virtual dengan tema “Peran Pengumpul dalam Prospek Bisnis Kopi Berkelanjutan”.

Di Indonesia ada tiga jenis pengumpul, yaitu di tingkat desa, tingkat kabupaten/kota, dan agen. Ketiganya memberikan layanan yang serupa kepada petani, antara lain memberikan pinjaman, menyediakan pupuk dan benih berkualitas, serta melakukan pelatihan.

Senthil Nathan, Pemimpin Operasional Enveritas wilayah Asia menegaskan bahwa secara tidak langsung, para pengumpul ikut membangun kesejahteraan petani karena terdapat hubungan yang saling membutuhkan satu sama lain. “Studi kami merekomendasikan beberapa ide untuk mereformasi bisnis kopi. Ide tersebut antara lain menciptakan akses pasar yang lebih modern menggunakan teknologi, memberikan akses terhadap pinjaman, melakukan pelatihan bisnis dan keuangan bagi para pengumpul, menciptakan sistem transportasi yang lebih efektif, memberikan bukti tanda terima yang dapat menandakan tingkat kualitas kopi petani, dan memperluas jenis layanan para pengumpul di luar sebagai pembeli,” tuturnya.

Wagianto, Manager Of Sustainability Management Services (SMS) PT.Indo Cafco menyatakan, “Saya melihat potensi peran pengumpul untuk membantu para petani sebagai mitra kerjanya. Namun, para pengumpul belum dapat membantu secara maksimal karena keterbatasan modal dan akses keuangan.”

Pengumpul dapat mereplikasi peran keberlanjutan yang dilakukan perusahaan kepada petani, hanya saja, tetap diperlukan pendampingan perusahaan dan bantuan dari pemerintah ataupun lembaga keuangan lain untuk mendukung kegiatan ini. “Saat ini, perusahaan sedang mengembangkan kemitraan dengan para pengumpul berkaitan dengan kegiatan usaha lainnya yang dapat mendukung kegiatan utama mereka sebagai pengumpul kopi, serta memfasilitasi para pengumpul dan petani untuk mendapatkan akses kepada permodalan,” kata Wagianto.

“Banyak dari petani mengajukan pinjaman kepada kami untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tentu kami juga ingin membantu sekaligus mengembangkan usaha kami, tetapi untuk mendapatkan modal usaha saja cukup sulit, meskipun sudah mengajukan modal ke bank atau koperasi. Untuk mendapatkan modal usaha, saya harus mencari pendapatan lain seperti bertani, menjadi perangkat desa dan menjual sayuran.” Kata Hadi Kusuma, pengumpul kopi robusta di Kecamatan Semendo, Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan.

(Visited 37 times, 1 visits today)