1 September, 2020

Jakarta,mediaperkebunan.id – Para pengusaha kecil dan menengah menyambut antusias kegiatan Gerakan Diversifikasi Dan Ekspose UMKM Pangan Lokal.

Founder sekaligus Distribotor Three-P Retail, Mirza mengatakan, gerakan ini sangat membantu para pengusaha kecil dan menengah yang ingin menjadikan pangan lokal sebagai sumber kehidupan dan sumber keuntungan. Lebih dari itu, gerakan tersebut juga sangat membantu para petani yang selama ini melakukan cocok tanam pangan lokal seperti Ubi, Singkong dan Sagu.

“Kita ingin pangan lokal Indonesia menjadi sumber bagi semua orang. Karena itu, perusahaan saya fokus pada penjualan dan pembelian panhan lokal singkong dan ubi,” ujar Mirza.

Mirza menjelaskan, sejauh ini pangsa pasar Three-P Retail meliputi pasar besar dan lokal. Meski demikian, tak menutup kemungkinan produk jualnya menembus pasar internasional. Adapun olahan yang dijual Thre-P Retail antara lain aneka kripik singkong dan Ubi. Kemudian ada olaham Combro dan Ubi kremes.

“Semuanya di produksi oleh petani lokal di daerah Cijeruk Bogor. Bahkan kami sudah memberdayakan petani lokal dengan pangsa pasar yang jelas. Untuk itu, kami mendukung program diversifikasi karena sangat bermanfaat bagi masyarakat banyak. Insyaallah kami juga akan mengambil program KUR (Kredit Usaha Rakyat),” kata Mirza.

Pengusaha lainya, Agus Sudomo menambahkan, program diversifikasi harus didorong oleh semua pihak untuk menjadi gerakan besar dalam mengoptimalkan kekayaan alam nusantara. Ia optimis gerakan ini bisa menjadi gerakan ketahanan pangan nasional yang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya sangat yakin gerakan diversifikasi mampu mendorong gerakan pangan nasional karena hanya dengan cara ini pangan kita terus lestari. Makanya, saya mengajak semua pihak dukung dan dorong gerakan ini menjadi gerakan bersama,” jelas Agus.

Mengenai hal ini, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa Gerakan ini adalah upaya pemerintah untuk mendorong ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman. Gerakan ini diharapkan mampu mewakili harapan dan kebutuhan seluruh rakyat Indonesia agar ketahanan pangan tetap kokoh, yang memperkuat hadirnya negara yang sejahtera.

“Hari ini kita mengkampanyekan gerakan diversifikasi pangan lokal sebagai kekayaan dan budaya bangsa. Artinya bukan hanya beras yang kita miliki. Tapi ada berbagai macam pangan lain seperti ubi-ubian, jagung, sorgum, sagu, kentang, labu dan lainnya,” ungkap Syahrul.

Bahkan sebelumnya, Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Antarjo Dikin pun mengakui sagu bisa juga dijadikan sebagai sumber pangan lainnya. Sehingga dengan membuka atau menciptakan pasar sagu, sama saja dengan mengangkat potensi petani dan membuka pasar ekonomi baru ke luar negeri.

5 Negara Pasar Sagu Indonesia
Terbukti, berdasarkan catatan Badan Pusat Satitstik (BPS) pasar sagu Indonesia terbesar ada di lima negara. Pertama Malaysia dengan volume ekspor 7.138.000 kilogram dengan nilai US$ 873.604. Kedua, Jepang dengan volume ekspor 4.122.000 kilogram dengan nilai US$ 2.008.748. Ketiga, Cina dengan volume ekspor 208.305 kilogram dengan nilai US$ 110.601. Keempat, Singapur dengan volume ekspor 7.175 kilogram dengan nilai 23.096. Kelima, Amerika Serikat dengan volume ekspor 4.615 kilogram dengan nilai US$ 68.227.

Sehingga, mengingat sagu memiliki kandungan serat yang tinggi, namun karbohidratnya rendah. Jadi sangat dianjurkan bagi penderita diabetes dan mencegah datangnya penyakit tersbut. “Semoga negara yang belum banyak yang tau manfaatnya, harus terus sosialisasikan untuk mendorong pasar luar negeri,” himbau Antarjo.

Sebab, Antarjo mengakui dengan terus mensosialisasikan manfaat sagu otomatis akan membuka pasar lebih besar lagi. Adapun daerah sentra penghasil sagu terbesar di Indonesia ini ada 5 daerah juga.

Pertama, Papua dengan total produksi 66.593 ton dengan luas 155.675 hektar. Kedua, Maluku dengan total produksi 8.134 ton, dengan luas 36.478 hektar. Ketiga, Kalimantan Selatan dengan total produksi 4.130 ton dengan nilai 6.511 hektar. Keempat, Aceh dengan total produksi 1.711 ton seluas 6.946 hektar. Kelima, Riau dengan total produksi 338.726 ton seluas 73.587 hektar.

Melihat angka tersebut maka sagu berpotensi untuk dikembangkan, tinggal memnciptakan pasar-pasar baru baik didalam negeri ataupu luar negeri. Ini karena sagu saat ini bisa dikembangkan untuk aneka makanan.

Contohnya di Sumatera Selatan, bisa dijadikan sebagai bahan baku (makanan) pempek. Jadi sagu bisa dicampur dengan tepung sagu baru digoreng.Bayangkan jika sagu diolah masal atau dijadikan pempek maka konsumsi sagu bisa meningkat. Belum lagi jika dijadikan mie. Sebab saat ini mie sagu juga sedang berkembang.

“Artinya jika konsumsi sagu dalam negeri juga meningkat maka otomatis akan meningkatkan harga sagu ditingkat petani,” harap Antarjo. YIN

(Visited 49 times, 1 visits today)