Pangkalan Bun, mediaperkebunan.id – Pengendalian hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) dan tikus menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga produktivitas kelapa sawit, baik pada fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) maupun Tanaman Menghasilkan (TM). Dalam ajang Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 Pangkalan Bun, Salahuddin Adi Kelana, S.P., M.Si., Praktisi P3PI sekaligus Dept Head Hama dan Penyakit Tanaman Union Sampoerna Triputra Persada, memaparkan strategi pengendalian berbasis manajemen preventif dan kuratif.
Salahuddin menekankan bahwa langkah awal sebelum melakukan pengendalian adalah memahami karakter dan siklus hidup hama. “Sebelum mengendalian hama oryctes atau tikus adalah mengetahui hama tersebut seperti apa dan siklus hidupnya,” ujar Salahuddin pada hari Rabu (29/04/2026). Dengan pemahaman ini, strategi pengendalian dapat dilakukan secara lebih tepat dan efektif.
Ia menjelaskan bahwa siklus hidup kumbang tanduk berkisar 6–7 bulan, sementara tikus memiliki tingkat reproduksi yang sangat cepat. “Reproduksinya jauh lebih cepat, 8–12 ekor anaknya sekali beranak,” jelas Salahuddin. Bahkan, dalam kondisi tanpa pengendalian, populasi tikus dapat berkembang sangat pesat dalam waktu singkat.
Dari sisi dampak, serangan oryctes pada TBM dapat merusak titik tumbuh tanaman sehingga menyebabkan tanaman menjadi kerdil atau mati. “Merusak titik tumbuh, membuat tanaman jadi kerdil atau mati,” kata Salahuddin. Kondisi ini berdampak pada keterlambatan produksi hingga 6–12 bulan serta peningkatan biaya sisip.
Pada tanaman menghasilkan, serangan oryctes dapat menyebabkan kerusakan lebih luas. “Produksi turun hingga 25%,” ujar Salahuddin. Selain itu, kerusakan pucuk, bunga abortus, hingga potensi menjadi sumber berkembangnya ganoderma juga menjadi ancaman serius.
Sementara itu, serangan tikus juga tidak kalah merugikan. Pada TBM, tikus merusak pelepah hingga titik tumbuh, sedangkan pada TM, tikus menyerang buah dan bunga jantan. “Penurunan hasil (5–15 persen bahkan lebih dari 20 persen), kualitas CPO menurun,” jelas Salahuddin. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian tikus harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
Dalam strategi preventif, Salahuddin menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan kebun. Salah satu langkah utama adalah penanaman legume cover crop (LCC). “Penanaman LCC dapat menghambat perkembangbiakan oryctes,” ujar Salahuddin. Tanaman penutup tanah ini mampu mengurangi kondisi ideal bagi hama untuk berkembang.
Selain itu, pemasangan jaring menjadi langkah penting untuk melindungi tanaman muda. “Semua bibit dipasang jaring untuk antisipasi hama oryctes maupun new planting atau replanting,” kata Salahuddin. Jaring berfungsi sebagai benteng awal untuk mencegah serangan langsung pada tanaman.
Pengendalian preventif juga dilakukan melalui pemasangan jaring di pinggir jalan saat proses replanting. “Pemasangan jaring pinggir jalan dilakukan bersamaan dengan sex feromon H+0 chipping,” jelas Salahuddin. Metode ini bertujuan mengalihkan kumbang agar tidak berkembang biak di area tanaman.
Langkah berikutnya adalah pengendalian sumber hama melalui kegiatan kutip larva. “Kutip larva dilakukan dua bulan setelah chipping untuk memutus siklus hidup oryctes,” ujar Salahuddin. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menekan populasi hama sejak fase awal.
Monitoring rutin juga menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian. “Dilakukan monitoring rutin sebulan sekali untuk semua jenis hama,” kata Salahuddin. Dengan pemantauan berkala, potensi serangan dapat dideteksi lebih dini.
Selain metode preventif, pengendalian kuratif dilakukan ketika serangan sudah terjadi. Pada oryctes, tindakan dilakukan melalui pemasangan feromon trap dan aplikasi insektisida pada tanaman terserang. Sementara pada tikus, pengendalian dilakukan melalui gropyokan, pemasangan perangkap, serta aplikasi rodentisida.
Salahuddin juga menekankan pentingnya pendekatan biologis dalam pengendalian tikus, seperti pemanfaatan burung hantu (Tyto javanica). Metode ini dinilai lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian hama tidak hanya bergantung pada satu metode, tetapi harus dilakukan secara terintegrasi. Dengan pengendalian yang tepat, kerugian akibat serangan hama dapat ditekan dan produktivitas kebun sawit tetap terjaga.

