2nd T-POMI
2022, 15 Agustus
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Pengendalian OPT baik hama, penyakit, maupun gulma pada perkebunan kelapa sawit tetap harus menggunakan pendekatan Manajemen Pengendalian OPT Terpadu. “Meskipun kami produsen bahan kimia pengendali OPT, prinsip Manajemen Pengendalian OPT Terpadu harus dilaksanakan yaitu pengendalian dilakukan jika keberadaan OPT sudah melewati ambang ekonomi dan penggunaan bahan kimia adalahi alternatif terakhir,” kata Nelson Sihombing dari PT Syngenta Indonesia pada webinar dan live steaming hybrid “Pemilihan Bahan Perlindungan Tanaman yang Tepat Menyikapi Dinamika Harga Pupuk dan Pestisida,” yang diselenggarakan Media Perkebunan bekerjasama dengan Syngenta dan gokomodo.

Manajemen Pengendalian Gulma Terpadu pada perkebunan kelapa sawit meliputi pengendalian secara manual (rawat piringan manual, dongkel anak kayu, perawatan gawangan dan lain-lain); pengendalian secara kultur teknis (penanaman LCC pada masa TBM, rumput untuk pakan ternak); pengendalian secara mekanis (melakukan perusakan fisik pada bagian gulma sehingga pertumbuhannya terganggu); pengendalian secara kimia menggunakan herbisida.

“Saat ini harga herbisida naik sampai berlipat-lipat, sehingga istilahnya ganti harga. Karena itu perlu kiat pemilihan herbisida yang tepat supaya pengendalian efektif dan efisien. Bila ada herbisida A lebih murah daripada herbisida B belum tentu menggunakan herbisida A lebih efektif dan efisien. Bisa saja dengan menggunakan herbisida A perlu volume lebih banyak dan frekuensi aplikasi lebih sering. Sedang herbisida B ternyata volume dan frekuensi aplikasi lebih sedkit sehingga dalam perhitungan tiap hektarnya penggunaan herbisida B lebih efektif dan efisien,” katanya.

Kiatnya kembali ke 5 Tepat yaitu tepat sasaran, tepat pestisida, tepat dosis, tepat cara, tepat waktu. Pertanyaan ketika akan memilih herbisida adalah apakah gulma di perkebunan ada solusi pengendaliannya; apakah pemilihan produk yang digunakan sudah tepat; apakah produk yang digunakan aman terhadap tanaman pokok; apakah produk yang digunakan aman terhadap aplikator dan lingkungan; apakah biaya yang dikeluarkan sudah efisien.

Baca Juga:  JELANG 2ND TPOMI 2024, CASTABLE UNTUK HINDARI KERUSAKAN BOILER

“Beberapa pengalaman saya ketika berkunjung ke perkebunan kelapa sawit adalah soal tepat dosis. Banyak yang masing menggunakan patokan lama misalnya dosis herbisida 80 ml/liter. Padahal herbisida semakin berkembang. Dulu perlu 400 liter air per ha sekarang hanya perlu 100 liter air/ha. Perlu diadakan kalibrasi lagi untuk setiap pemakaian herbisida karena konsentrasi bahan aktif sekarang lebih besar sehingga penggunaan air lebih sedikit.” Katanya.

Tepat waktu juga bukan sekedar waktu yang tepat apakah pagi atau sore tetapi melihat fase pertumbuhan gulma. Pengendalian gulma efektif pada fase vegetatif karena tanaman belum berreproduksi, pengendalian pada fase generatif akan membuat pengendalian menjadi lebih sering frekuensinya karena gulma cepat melakukan suksesi.

Supaya aplikasi herbisida dan pestisida jenis lain aman untuk apklikator maka Syngenta punya 5 aturan emas penggunaan produk perlindungan tanaman yaitu memahami label; penanganan secara hati-hati; merawat sprayer dengan baik; senantiasa membersihkan diri; mengenakan alat pelindung diri (APD).

Kegiatan stewardship Syngenta membimbing petani agar dapat memperoleh manfaat maksimal dari produk perlindungan tanaman, dan pasa saat yang sama meminimalkan risiko dari aplikasi penggunaannya. “ Setiap tahun kami melatih 300.000 orang pekerja perkebunan dan petani soal 5 aturan emas ini. Kami juga membagi-bagikan APD pada petani dan pekerja perkebunan,” kata Nelson lagi.

Saat ini aplikator harus membuka kemasan, menuang dalam bak pencampuran, mencampurkan dan mengisi sprayer dengan larutan bahan perlindungan tanaman. Masih ada potensi paparan bahan perlindungan tanaman pada aplikator.

Tahun depan Syngenta akan merilis teknologi baru yang bernama CLKS (Close Loop Knapsack System). Teknologi ini hanya mengisi air pada sprayer.Bahan perlindungan tanaman ada dalam catridge yang dimasukkan dalam alat yang terhubung dengan sprayer. Dengan teknologi ini maka minimum paparan, tepat dosis, tanpa harus mencampur.

Baca Juga:  Kelapa Sawit Didiskriminasi, Kemendag Gugat UE