Garut, Mediaperkebunan.id – Dalam pembinaan usaha prpduktif warga binaan Lapas Garut bekerjasama dengan Coir Indonesia memproduksi Coir Shade untuk pasar ekspor, kendala yang dihadapi Lapas Garut adalah terbatasnya tempat kerja sehingga hanya bisa menyerap tenaga kerja 200 orang. “Kalau tempatnya luas maka tenaga kerja yang diserap bisa lebih banyak. Kalau diperluas bisa saja 1000 warga binaan ikut bekerja,” kata Kepala Lapas Garut Rusdedy.
Saat ini Lapas Garut hanya mengerjakan proses akhir saja. Sarana prasarana produksi semua dipenuhi oleh perusahaan. Lapas hanya menyediakan tempat saja, pelatihan , bahan baku, bahan penunjang semua disediakan perusahaan.
“Kegiatan ini berjalan tanpa ada biaya dari negara. Ini sangat luar biasa. Apalagi dengan efisiensi anggaran belum tentu negara bisa menyediakan anggaran untuk kegiatan produktif. Ini adalah kegiatan yang menguntungkan antara negara dengan perusahaan dengan multiplier efek yang besar juga,” katanya.
Sesuai arahan Presiden untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menyerap tenaga kerja, kalau usaha ini dikembangkan di banyak lapas maka efeknya luar biasa. Bila ada 10 perusahaan melakukan hal yang sama dan satu perusahaan menyerap 200 tenaga kerja maka perputaran ekonomi luar biasa.
Lapas bisa ambil bagian dengan fokus supaya napi punya kegiatan produktif. Semua daerah di Indonesia menghasilkan kelapa, hanya beda dari sisi volume saja ada yang besar dan ada yang kecil. Kegiatan produktif pengolahan sabut kelapa bisa dilakukan di semua daerah Indonesia karena bahan baku tersedia. Apa yang dilakukan Lapas Garut bisa diterapkan di semua lapas seluruh Indonesia, Tanpa anggaran dari negara karena semuanya disediakan pengusaha yang melakukan kerjasama dengan lapas.
Di sentra-sentra utama kelapa bisa bersinergi dengan lapas untuk menghasilkan produk ekspor seperti coir shade ini. Bila ekspor meningkat maka devisa negara meningkat. Hampir semua lapas punya lahan, sehingga bisa melakukannya. Tinggal mengatur kerjasama antara asosiasi Himpunan Pengusaha Sabut Kelapa Indonesia dengan lapas.
“Tidak perlu banyak-banyak cukup 1 provinsi 1 lapas. Ada 34 provinsi di Indonesia bila setiap bulan 1 lapas mengekspor 1 kontainer maka tiap bulan ada 34 kontainer dari lapas masuk pasar ekspor. Ini sangat luar biasa. Ketika ekspor perdana kita undang bupati tentu mereka senang karena daerahnya jadi penghasil devisa. Permintaan produk ramah lingkungan seperti coir shade ini tinggi dan sampai sekarang perusahaan belum mampu memenuhi semua permintaan karena kendala teknis di lapangan. Bila bersinergi dengan lapas maka kendala-kendala ini bisa diatasi,” katanya.
Pusat strategi kebijakan sudah melakukan kajian ketahanan pangan pada Lapas Garut sedang kelapa sudah mendapat perhatian hanya perlu tindak lanjut lagi. Apa yang dilakukan Lapas Garut soal pengolahan sabut kelapa adalah realitas, sudah dilakukan, ada buktinya jadi tinggal duplikasi saja.
Di lapas lain bisa saja sejak dari perkebunan kelapa sudah dikelola. Lapas punya lahan luas, contohnya Nusakambangan satu pulau punya lapas semua. Bisa saja salah satu pulau milik lapas dikembangkan menjadi perkebunan kelapa, kemudian industri pengolahannya sekalian, dengan produk semua diekspor. Tenaga kerja napi yang diserap akan banyak sekali juga memberikan devisa pada negara. Ini merupakan salah satu solusi mengembalikan kejayaan kelapa Indonesia.
Kalau perlu di pulau-pulau terluar bagun lapas khusus perkebunan kelapa dan olahannya. Investor bisa masuk membangun kebun dan pabrik dengan tenaga kerja napi. Ini juga cara untuk menjaga kedaulatan di pulau terluar Indonesia.
Pertama dibangun kebun kelapa dulu, setelah 3-4 tahun ketika sudah menghasilkan dibangun industri kelapa terpadu. Produk cocopeat keluar dari pulau dijual dengan harga murah untuk membantu petani mendapatkan media tanam. Semua bagian kelapa tidak ada yang terbuang menjadi produk bernilai tambah tinggi.

