Jakarta, mediaperkebunan.id – Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berencana membangun perkebunan kelapa dalam seluas setengah juta hektar (Ha) yang melibatkan badan usaha milik negara (BUMN), dalam hal ini PTPN 1, dan para petani dengan pola inti plasma.
“Rencana tersebut diungkapkan oleh Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, saat bertemu para stakeholder pertanian dan perkebunan di Kantor Kementan di Jakarta, Rabu (13/8/2025),” kata Lulu Paputungan kepada Mediaperkebunan.id melalui handphone, Kamis 14/8/2025).
Lulu Paputungan adalah Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI) yang ikut dalam pertemuan tersebut.
Kata Lulu Paputungan, niat baik pemerintah itu bakal dilakukan dalam tiga tahun ke depan. Namun dalam pertemuan itu, Lulu bilang Mentan berbicara secara umum mengenai komoditas apa saja yang akan dikembangkan ke depan.
“Karena secara mendetail yang menyampaikan adalah pejabat setingkat Direktorat Jenderal di Kementan,* tutur Lulu Paputungan lebih lanjut.
Namun tentu saja pihaknya menyambut baik rencana pengembangan perkebunan kelapa dalam oleh pemerintah tersebut dan siap membangun komunikasi dengan pihak PTPN I agar para petani yang menjadi anggota APKI kelapa bisa menjadi peserta plasma.
“Tentu saja kami akan membangun komunikasi dengan PTPN I mengenai hal ini, sekaligus menyiapkan para petani anggota APKI agar kelak, mudah-mudahan, bisa menjadi petani plasma binaan dari PTPN I sebagai perusahaan inti,” ujar Lulu Paputungan lagi.
Sebagai informasi, dalam pertemuan tersebut terungkap kalau pemerintah berencana membangun 500.000 hektar (Ha) atau setengah juta Ha yang diproyeksikan di banyak provinsi di Indonesia, termasuk di Pulau Jawa.
Kelapa dalam yang bisa dipanen atau dihasilkan melalui program inti plasma tersebut nantinya akan diprioritaskan untuk hilirisasi atau dijadikan produk olahan berupa coconut milk atau santan serta produk samping lainnya.
Investasi yang dibutuhkan diprediksi mencapai Rp 7,2 triliun, dengan keuntungan kumulatif Rp 700,94 triliun; diprediksi mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1.156.246 orang, dan seluruh orientasi pengembangannya adalah untuk ekspor.

