Jakarta, mediaperkebunan.id – Pada perhelatan wastra nasional INACRAFT 2025, kolaborasi Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), WWF-Indonesia, RSPO, APICAL, CECT Universitas Trisakti, Daemeter dan Control Union, resmi meluncurkan batik berbahan kelapa sawit.
Batik ini diproduksi dengan menggunakan bahan ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan menggunakan wax (lilin/malam) berbasis kelapa sawit yang diolah secara berkelanjutan.
Batik ini diharapkan menjadi produk unggulan karena memadukan keunikan budaya Indonesia dengan praktik berkelanjutan yang diterapkan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui penggunaan lilin ini, konsumen yang membeli batik ini juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan.
Batik ramah lingkungan ini merupakan jawaban bagi konsumen yang ingin memastikan produk yang dibeli tidak berkontribusi pada kerusakan lingkungan.
Kedepannya, produk lilin yang terbuat dari kelapa sawit berkelanjutan diharapkan dapat terhubung dengan pasar dan industri dampingan WWF-Indonesia dan juga menginspirasi para pelaku usaha untuk menerapkan nilai-nilai keberlanjutan.
“WWF-Indonesia meyakini bahwa sawit yang dikelola secara berkelanjutan dan bertanggung jawab tidak berdampak buruk bagi lingkungan,” ujar Angga Prathama Putra, Sustainable Commodities Lead WWF-Indonesia, Rabu (5/1/2025).
Untuk itu, kata Angga, sangat penting untuk mendorong praktik keberlanjutan di produk-produk sehingga konsumen punya pilihan produk berkelanjutan.
Menurut Angga, perpaduan antara budaya indonesia dan praktik keberlanjutan harapannya bisa menjawab tantangan pasar domestik, tentang ketersediaan produk ramah lingkungan berbahan baku kelapa sawit.
Head of Corporate Communications Apical Group Prama Yudha Amdan mengatakan, bagi APICAL, pengolah minyak nabati berkelanjutan, peluncuran batik dengan menggunakan “malam” berbasis kelapa sawit ini tidak hanya sebuah inovasi, melainkan sebuah terobosan penting dalam industri.
Menurut Prama, kelapa Sawit yang selama ini hanya terbatas dikenal sebagai komoditas, terbukti dapat diolah menjadi beragam aplikasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Hydrogenated Palm Stearin (HPS) yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan “malam” batik ini merupakan salah satu produk turunan sawit yang diproduksi Apical
Selain HPS, kata Prama, Apical juga mengolah minyak kelapa sawit menjadi produk konsumsi, produk oleochemical untuk kebutuhan kosmetik, produk pakan ternak hingga produk keperluan bahan bakar.
“Kelapa sawit adalah tanaman masa depan karena rentang produk turunannya sangat luas mulai dari untuk konsumsi hingga bahan bakar. Mulai dari kebutuhan dapur sampai pembuatan avtur,” ujar Prama.
Upaya kolaboratif pembuatan batik berbasis sawit ini merupakan pembuktian bahwa potensi kontribusi ekonomi industri kelapa sawit tidak hanya terbatas pada aspek komoditas, tapi juga turut melaksanakan hilirisasi yang selama ini terkesan hanya terjadi di sektor ekstraktif.
“Ketika industri lain baru bersiap melaksanakan hilirisasi, kami (kelapa sawit) sudah rampung. Bahkan efek dorongan ekonomi yang terjadi tidak hanya pada aktivitas usaha padat modal, tapi juga dirasakan aktivitas usaha kecil dan menengah seperti para perajin batik ini,” tambah Prama.
“Kami percaya bahwa ketika standar keberlanjutan diterapkan di seluruh rantai pasok kelapa sawit, maka akan membuka peluang baru bagi berbagai industri, termasuk sektor kreatif seperti batik,” ujar Deputy Director Market Transformation RSPO M Windrawan Inantha.
Pendekatan inovatif ini, kata Windrawan, membuktikan bahwa produk berbasis kelapa sawit berkelanjutan tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi semua pihak, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
“Kami berharap inovasi seperti ini dapat menjadi role model bagi industri lainya untuk mengadopsi praktik bisnis berkelanjutan, sekaligus dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaat produk berbasis kelapa sawit yang berkelanjutan,” ujar Windrawan.
Sejak tahun 2022 RSPO telah melakukan kerjasama dengan FPKBL, untuk menciptakan formula batik yang menggunakan turunan produk sawit berkelanjutan.
Tujuan ini didasarkan pada empat pendekatan yaitu: keanggotaan FPKBL di RSPO; peningkatan kapasitas dan kesadaran anggota FPKBL tentang kelapa sawit berkelanjutan; penggunaan minyak sawit berkelanjutan bersertifikasi RSPO dan turunannya (termasuk namun tidak terbatas pada lilin berbahan dasar minyak sawit); dan pemasaran produk batik FPKBL yang berpusat pada penggunaan minyak sawit lestari bersertifikat dalam proses produksinya.

