Jakarta, mediaperkebunan.id – Industri kopi nasional sedang mengalami paradoks yaitu hulu produksi dan produktivitas nasonal statis rendah; investasi kurang karena bersifat jangka panjang sehingga perlu manajemen risiko yang cermat; fluktuasi harga jual produk tinggi dengan posisi buyer market; aplikasi teknologi masih terbatas. Surip Mawardi , Ahli Peneliti Utama Dewan Kopi Indonesia menyatakan hal ini dalam Webinar Perbenihan yang diselenggarakan Sinar Tani.
Sedang dihilir konsumsi domestik meningkat dan polanya makin dinamis; investasi banyak khususnya disektor ritel, karena pengetahuan yang lebih baik dan gaya hidup; fluktuasi harga produk market dengan posisi producer market; aplikasi teknologi berkembang pesat.
“Terganggunya pasok kopi sektor hulu akan berdampak dinamika bisnis sektor hilir. Kalau tidak melakukan sesuatu maka Indonesia suatu saat akan tergantung pada kopi impor. Ini tidak boleh terjadi,” kata Surip.
Total luas lahan kopi tahun 2023 1.262.590 ha dengan produksi 756.097 ton, produktivitas 793 kg/ha, termasuk rendah. Produksi kopi Indonesia 71,4% merupakan kopi robusta sedang arabika 28,4%. Indonesia memproduksi kopi liberika, yaitu yang tumbuh di pantai dan dataran rendah dan ekselsa yang tumbuh di Jawa tetapi jumlahnya sedikit sehingga dimasukkan dalam produksi kopi robusta.
Selama 20 tahun dari tahun 2004 sampai 2023 luas areal kopi pertumbuhan pertahun -0,21%, sedang produksi 0,91%, ekspor 2,09%/tahun, semuanya stagnan. Impor malah tumbuh tinggi 77,61%/tahun. “Ini kondisi yang memprihatinkan,” kata Surip.
Dari sisi produktivitas dalam 10 tahun dari tahun 2012 sampai 2023 pertumbuhannya juga stagnan 0,65%/tahun. Organisasi Kopi Internasional menghitung volume kopi satuannya karung, 1 karung = 60 kg, produsen kopi nomor 1 dunia Brasil produktivitas 29 karung/ha, produsen nomor 2 Vietnam 45 karung/ha, produsen nomor 3 Kolombia 18,3 karung , produsen nomor 4 Indonesia 13,2 karung/ha dan produsen nomor 5 Ethiopia 10,6 karung. Indonesia dan Kolombia bergantian menempati posisi nomor 3 dan 4 tergantung iklim.
Berbagai kondisi kebun kopi petani yang ditemui Surip, ada yang sudah baik sampai bisa 5 ton/ha. Kebun yang seperti ini perlu konsisten dalam perawatan kebun sesuai GAP. Ada kebun dalam kondisi sedang maka perlu pemenuhan populasi dan perbaikan perawatan. Ada yang rusak/tua sehingga perlu rejuvenasi atau tanam ulang.
Benih bermutu merupakan salah satu kunci penting dalam mendinamisasi sektor hulu industri perkopian nasional. Ketika orang mau investasi membangun kebun kopi pertanyaan pertama adalah adakah benih unggul. Benih unggul ini mengandung harapan akan keberhasilan.
Benih bermutu dari genetik potensinya harus sudah teruji dengan baik; tingkat kemurnian tinggi; memiliki informasi daya adaptasi yang jelas (luas atau spesifik). Dari sisi kegigasan harus tumbuh gigas, tidak menampakan gejala kelainan fisiologis; bebas dari serangan hama dan penyakit.
Contoh beberapa varietas unggulan kopi arabika tipe kata, pende, ateng adalah Sigarar Utang, Andungsari 1, Andungsari 2 K, Komasti , Gayo 3 dan lain-lain. “Petani sekarang sangat suka menanam Komasti, adaptasi sangat luas cocok untuk tanah yang kurang subur dan melndungi tanah sehingga cocok untuk agroforestry. Saya saat ini jadi petani di Sumut juga menanam Komasti, saya suka varietas ini,” katanya.
Sedang varietas unggul arabika tipe tinggi adalah AB 3, S 795, USDA 762, Gayo 1, Gayo 2 dan lain-lain. Varietas unggul anjuran kopi robusta adalah untuk perbanyakan vegetatif (klonal) BP 436, BP 409, BP 534, BP 936, BP 939 dan lain-lain. Perbanyakan generatif (biji) adalah BP 42 x BP 358, Hibiro 1, Hibiro 2, Hibiro 3, Hibiro 4 dan lain-lain. Varietas unggul kopi liberika baru ada satu yaitu Libtukom (Liberika Tunggal Komposit) , sedang ekselsa belum ada.

