8 October, 2020

Bener Meriah, Media Perkebunan.id

Salah satu dampak pandemi Covid-19 adalah mulai berubahnya kebiasaan petani kopi Gayo. Biasanya mereka menjual dalam bentuk cheri, karena harganya turun dari biasa Rp12.000-14.000/kg jadi Rp6000-7000/kg, sekarang mulai mengolah jadi kopi gabah. Kopi gabah bisa disimpan lebih lama dengan akan dijual bila harga naik. Armia Ahmad, Ketua BPD AEKI Aceh menyatakan hal ini dalam webinar BPTP Aceh dengan Komda Peragi Aceh.

Armia juga mengharapkan petani kopi Gayo mulai melirik pasar dalam negeri. “Selama ini karena harganya premium 99% diekspor. Roaster di Jakarta jarang menggunakan kopi Gayo karena bisa mendapatkan kopi dari daerah lain dengan harga lebih murah. Dengan turunnya harga kopi Gayo diharapkan 5-10% bisa bergeser mengisi pasar kopi dalam negeri yang sedang bertumbuh,” kata Ketua Kompartemen Produksi dan Kopi Specialty AEKI ini.

Kopi Gayo diusahakan 85.000 keluarga dengan luas 102.000 ha. Tersebar di 3 kabupaten yaitu Aceh Tengah 48%; Bener Meriah 45% dan Gayo Lues 7%. Sekitar 85% income penduduk Aceh Tengah dan Bener Meriah berasal dari kopi.

Produksi kopi Gayo fluktuatif tergantung iklim, tahun 2015/16 65.000 ton tetapi tahuh 2019/20 48.000 ton. Tahun 2020/21 diperkirakan akan naik sedikit. Pandemi tidak menganggu produksi.

Karena keunikannya sebagai specialty kopi maka mudah sekali diserap pasar internasional, yaitu 99% diekspor ke Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Jepang dan Korea Selatan. Dijual 99% dalam bentuk green bean, sedang roasted hanya untuk pasar dalam negeri 1%.

“Khusus pasar Eropa sebenarnya sebelum pandemi sudah bermasalah. Akibat adanya perubahan peraturan disana yang menetapkan kandungan glifosat maksimal 0,01 mg/kg. Kopi Gayo meskipun banyak yang sudah berseritifikat organik tetapi tidak bisa memenuhi, sehingga kita kehilangan pasar 5.000 ton/tahun,” kata Manajer Koperasi Permata Gayo Bener Meriah ini.

Sebelum pandemi kopi Gayo sangat dibutuhkan roaster AS, Kanada, Eropa, Jepang, Korsel meskipun masih menggunakan nama Sumatra Mandheling. Petani kopi Gayo tidak pernah mengenal tidak terjual, tidak terserap pasar. Harga kopi Gayo juga sangat premium yaitu 2-3 kali harga bursa komoditas New York. Kalau harga kopi Arabika bursa NY USD2,5/kg maka harga kopi Gayo USD5-7,5/kg. Jadi kopi Gayo gampang dijual dengan harga tinggi.

Pandemi di negara-negara tujuan ekspor mengubah semua ini.Pembatasan dan pegurangan aktivitas roaster dan kafe membuat permintaan kopi turun. Impotir minta pengiriman ditunda 2-3 bulan. Akibatnya gudang ekspotir penuh yang berpengaruh pada pembelian dari pedagang pengumpul.

“Karena terbiasa gampang menjual dengan harga tinggi kondisi ini membuat kepanikan pada petani. Mereka sampai demonstrasi dengan menjemur kopi cheri di depan kantor bupati. Bahkan ada yang melaporkan ekspotir ke Polda karena menganggap ini hanya permainan. Perubahan dari situasi sangat enak menjadi tidak enak membuat beberapa dari mereka jadi tidak rasional. Kondisi selama ini dengan 99% ekspor green bean sama dengan meletakkan semua telur dalam satu keranjang. Kalau keranjangnya rusak maka pecahlah semua telur itu,” kata Armia lagi.

Situasi agak mereda karena bulan Juni-September ada jeda panen. Bulan Oktober ini mulai panen, dan diperkirakan terjadi pergeseran puncak panen dari biasa April-Juni ke November-Desember. Akan ada kopi baru, padahal gudang pedagang lokal, pedagang pengumpul dan eksportir masih menumpuk kopi lama. Harga akan turun dan pendapatan petani turun 40-50%.

(Visited 13 times, 1 visits today)