Jakarta, mediaperkebunan.id – Penyakit busuk pangkal batang (Basal Stem Rot/BSR) yang disebabkan oleh Ganoderma yang menjadi ancaman senyap masih menjadi momok terbesar industri kelapa sawit dunia. Patogen ini bekerja secara diam-diam, tetapi dampaknya sangat besar: menurunkan produktivitas, meningkatkan biaya operasional, dan berpotensi menggerus keberlanjutan industri sawit itu sendiri.
Dalam sebuah artikel opini yang dimuat di thestar.com, praktisi dan peneliti perkebunan dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, Joseph Tek Choon Yee, menggambarkan Ganoderma sebagai ancaman senyap industri sawit dan “musuh publik nomor satu” industri sawit yang setiap tahun menyebabkan kerugian lebih dari RM2 miliar di Malaysia.
“Ganoderma tidak berteriak. Ia tidak tergesa-gesa. Ia hanya membunuh tanaman, memangkas hasil, dan menguras keuntungan,” tulis Joseph.
Menurutnya, penyakit busuk pangkal batang pertama kali dikenal sebagai penyakit tanaman sawit tua berumur 25–30 tahun. Namun, seiring waktu, pola serangannya berubah drastis. Ganoderma kini ditemukan menyerang tanaman berumur 10–15 tahun, bahkan pada sawit muda berusia kurang dari satu tahun.
Beberapa spesies Ganoderma yang terlibat antara lain Ganoderma boninense, Ganoderma zonatum, dan Ganoderma miniatocinctum. Meski berbeda spesies, dampaknya sama: kematian tanaman dan penurunan produktivitas. “Ini bukan daftar keanekaragaman hayati yang menarik. Ini adalah daftar pembunuh sawit,” tegas Joseph.
Ganoderma awalnya banyak ditemukan di perkebunan pesisir, namun kini telah menyebar hingga ke wilayah pedalaman, termasuk lahan gambut. Penyakit ini menyebar melalui dua jalur utama, yaitu kontak akar ke akar di dalam tanah serta spora udara yang terbawa angin.
Masalah terbesar, menurut Joseph, adalah sifatnya yang sulit dideteksi sejak dini. “Saat Anda melihat gejalanya, sering kali saat semuanya sudah terlambat,” tulisnya.
Data menunjukkan eskalasi serius. Pada 2009/2010 di Malaysia sekitar 3,7% perkebunan atau 60.000 hektare terdampak. Angka ini melonjak menjadi 7,4% atau 221.000 hektare pada 2016/2017. Joseph meyakini angka terbaru bisa jauh lebih mengkhawatirkan.
Hingga kini, belum ada solusi tunggal yang benar-benar mampu memberantas Ganoderma. Berbagai upaya telah dicoba, mulai dari pembakaran tunggul, bahan kimia, agen hayati seperti Trichoderma, hingga pengembangan varietas toleran penyakit. Namun hasilnya belum konsisten.
“Tidak ada obat. Bukan sekarang. Kita tidak bisa memusnahkan Ganoderma, tapi hanya bisa mengelola keberadaannya,” tulis Joseph dengan nada reflektif.
Menurutnya, sanitasi lahan seperti mencabut tanaman terinfeksi, membersihkan tunggul, dan isolasi blok—hanya menunda, bukan menghilangkan total.
Joseph menekankan bahwa Ganoderma bukan sekadar penyakit, melainkan cermin dari kelemahan sistem pengelolaan perkebunan. Penyakit ini berkembang subur ketika tindakan ditunda, keputusan setengah hati diambil, dan konsistensi pengendalian melemah.
“Ganoderma tidak menang karena dia kuat. Ia menang karena kita ragu,” tulisnya. Satu tunggul yang tidak dibersihkan, satu blok yang terlambat diremajakan, atau satu musim sanitasi yang dikompromikan sudah cukup untuk membuka peluang penyebaran.
Artikel ini menegaskan bahwa melawan Ganoderma membutuhkan pendekatan sistemik, disiplin jangka panjang, serta kepemimpinan yang kuat. Bukan sekadar mengandalkan produk, konferensi, atau solusi instan.
“Dalam perkebunan, seperti dalam hidup, apa yang kita tunda tidak akan hilang. Ia akan berlipat ganda,” tulis Joseph menutup artikelnya.
Bagi industri sawit, pesan ini menjadi peringatan penting. Tanpa tindakan tegas, konsisten, dan berbasis sistem, Ganoderma akan terus menjadi ancaman senyap yang menggerogoti produktivitas dan keberlanjutan sektor kelapa sawit.

Menanggapi persoalan Ganoderma ini dengan serius, Media Perkebunan menghadirkan pakar-pakar di industri tanaman kelapa sawit di acara 3rd International Symposium Ganoderma (ISGANO) 2026 pada tanggal 10-12 Februari 2026. Tak hanya dari Indonesia, pakar dari Malaysia, Dr. Shamala Sundaram pun turut hadir menjadi narasumber untuk memberikan teknis pengendalian Ganoderma secara mendalam.
Topik utama dalam conference antara lain Ganoderma, Fusarium oxysporum, Elaeidobius kamerunicus, dan Hama & penyakit tanaman. Selain conference bersama narasumber handal, 3rd ISGANO 2026 juga menggelar acara pameran produk-produk pengendalian ganoderma inovatif dan field trip untuk mengamati kebun yang terdampak ganoderma dan proses pengendalian secara langsung.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai 3rd ISGANO 2026 dapat mengunjungi laman isgano.com atau menghubungi Ika (+62 812-8718-2301) melalui WhatsApp.

