Palembang, mediaperkebunan.id – Praktisi Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI), Ir. Posma Sinurat, MT menekankan pentingnya pengendalian losses di kebun dan pabrik kelapa sawit sebagai salah satu kunci utama peningkatan produktivitas industri sawit nasional. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi pemaparan materi pada acara Pertemuan Teknis Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit bertajuk “Kiat Sukses Meningkatkan Produktivitas Sawit” yang diselenggarakan di Sumatera Selatan.
Posma menekankan bahwa faktor paling berpengaruh terhadap Oil Extraction Rate (OER) bukanlah buah mentah karena buah mentah tidak menghasilkan minyak sama sekali melainkan jumlah brondolan. Standar ideal brondolan adalah sekitar 10%, namun dalam praktiknya sering terjadi kehilangan di berbagai titik.
Ia menguraikan secara rinci bahwa terdapat enam titik losses brondolan di kebun dan lima titik losses di pabrik yang kerap luput dari perhatian. Di kebun, titik pertama adalah brondolan yang tersangkut di ketiak pelepah akibat pemotongan pelepah yang kurang tepat. Rata-rata, setiap pohon dapat menyisakan dua butir brondolan yang justru memiliki kandungan minyak paling tinggi karena mesokarpnya lebih tebal.
“Jika dihitung secara akumulatif, losses di titik ini saja bisa mencapai puluhan miliar rupiah,” tegasnya.
Titik losses berikutnya meliputi brondolan yang tertinggal di piringan, tercecer di pasar pikul, tertinggal di tempat pengumpulan hasil (TPH) yang tidak dikelola dengan baik, tercecer di jalan kebun akibat truk kelebihan muatan dan kondisi jalan yang kurang memadai, serta brondolan yang tertinggal di dalam truk pengangkut.
“Bayangkan satu truk bisa menyisakan sekitar tiga kilogram brondolan. Jika buah tersebut matang, seharusnya bisa masuk pabrik dan menghasilkan minyak,” jelas Posma.
Sementara itu, di pabrik terdapat lima titik losses utama. Salah satu yang paling signifikan adalah brondolan dan TBS yang tergilas backhoe loader di area penerimaan bahan baku. Menurut Posma, ini termasuk unknown losses karena sering kali tidak tercatat secara sistematis, padahal dampaknya sangat besar terhadap peningkatan losses dan free fatty acid (FFA).
Ia juga menyoroti pentingnya penataan area loading ramp, lantai sortasi, area rebusan, hingga threshing. Brondolan yang tercecer dan tidak segera diolah akan membusuk dan pada akhirnya tidak memberikan nilai tambah. “Harus ada filosofi bersama bahwa tidak boleh ada brondolan di lantai yang tidak diolah,” tegasnya.
Posma menekankan bahwa brondolan yang tertinggal di lapangan akan berdampak langsung pada penurunan OER, KER, dan CPO ton per hektar. Sementara TBS yang tertinggal di kebun akan menurunkan total produksi CPO per hektar secara keseluruhan.
Menurut Ir. Posma, kebun dan pabrik tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Dalam konteks manajemen, ia membagi aktivitas utama di kebun menjadi dua fokus besar. Pertama, mengupayakan kandungan minyak yang tinggi pada brondolan yang menjadi ranah agricultural science. Kedua, memastikan seluruh brondolan hasil panen dapat terangkut ke pabrik yang merupakan tanggung jawab operation management science.
Adapun di pabrik, terdapat dua aktivitas utama yang menentukan keberhasilan pengendalian losses. Pertama adalah memastikan seluruh bahan baku direbus dengan baik melalui pengelolaan sistem steam, boiler, back pressure vessel (BPV), dan sterilizer. Kedua adalah proses pemisahan minyak dan kernel secara efektif dan efisien melalui pengaturan steam, waktu retensi, serta efisiensi mesin.
“Pabrik bertanggung jawab memastikan kuantitas dan kualitas produk sesuai kontrak dengan buyer. Namun itu hanya bisa tercapai jika bahan baku dari kebun dikelola dengan benar,” tegasnya
Menutup pemaparannya, Posma menegaskan bahwa langkah awal untuk meminimalkan losses adalah melakukan identifikasi di setiap titik kehilangan, merencanakan perbaikan, dan secara konsisten melaksanakan perbaikan tersebut. Selain aspek teknis, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondusifitas kerja di kebun dan pabrik.
“Kita perlu menjaga agar lingkungan kerja tetap sehat. Tekanan yang terlalu tinggi justru bisa mematikan inovasi dan kreativitas para planters. Padahal, inovasi adalah kunci untuk meningkatkan produktivitas sawit ke depan,” pungkasnya.
Menutup paparannya, Ir. Posma juga menekankan pentingnya pendekatan Quality People and System (Q-PS). Menurutnya, pengendalian losses tidak cukup hanya dengan teknologi dan mesin tetapi harus didukung oleh manusia yang kompeten, sistem yang jelas, serta manajemen yang terstruktur.

