Bogor, mediaperkebunan.id – Industri gula tahun 2025 terjadi kemarau basah yang membuat rendemen gula terkoreksi tajam dibanding tahun sebelumnya; kebun tebu menjadi becek membuat tebang, angkut dan giling terganggu, truk tidak bisa masuk, jadwal tebang diganti, kualitas tebu menurun; biaya tebang muat angkut naik; potensi pendapatan petani rendah karena kualitas tebu rendah. Danang Permadhi, Peneliti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)/PT Riset Perkebunan Nusantara menyatakan hal ini.
Pemerintah membuat program hilirisasi perkebunan sehingga produksi gula tahun 2025 diperkirakan meningkat jadi 2,6 juta ton dan 2026 2,8 juta ton. Program meliputi bongkar ratoon TR, pembangunan 10 PG baru, pembangunan pabrik etanol, agripreuner tebu dan penguatan kemitraan TR.
Serapan dan harga gula serta tetes rendah padahal produksi gula dan tetes meningkat; harga gula lebih rendah dibanding tahun 2024 Rp14.500/kg dan tetes Rp1.500/kg; terdapat indikasi kebocoran gula rafinasi ke pasar gula konsumsi; regulasi impor yang longgar membuat impor etanol/molases meningkat dan daya serap produk lokal rendah.
Implikasi bagi petani PG adalah rendahnya pendapatan petani; keterlambatan pencairan SHU, terganggunya operasional PG, target swasembada gula terganggu, kenaikan produksi tidak cukup apabila tidak diiringi serapan yang baik dan harga yang layak, tekanan bagi pemerintah untuk memperbaiki tata niaga impor gula dan produk sampingan serta memberikan jaminan pasar.
P3GI merekomendasikan kebijakan program protektif untuk melindungi industri gula dalam negeri penerapan tarif dan kuota impor; pengawasan distribusi gula untuk mencegah rembesan GKR; pemberantasan penyelundupan gula; memperkuat Bulog sebagai Badan Peyangga Gula Nasional; evaluasi harga gula; perlunya BPDP Gula.
Program promosi untuk meningkatkan kinerja industry gula dengan intensifikasi dan ekstensifikasi tebu; revitalisasi PG; peningkatan kompetensi SDM petugas PG dan petani TR; bantuan permodalan melalui KUR dan bunga lunak; revitalisasi P3GI.
Produksi TS (tebu sendiri) tahun 2015 12.198.640 ton, 2024 12.067.490 ton, 2025 diperkirakan 14.980.340 ton, 2026 15.229.190 ton. Protas tahun 2015 66,33 ton/ha, 2024 59,03/ha ton, 2025 diperkirakan 69,2 ton,/ha 2026 66,73 ton/ha.Produksi TS 2015-2024 tumbuh 0,76%/tahun sedang 2025-2026 12,9%/tahun. Protas TS 2015-2024 turun 0,61%/tahun, 2025-2026 tumbuh 6,38%.
Produksi TR (tebu rakyat) 2015 17.965.450 ton, 2024 21.149.120 ton, 2025 diperkirakan 24.556.920 ton , 2026 diperkirakan 25.319.300 ton. Protas TR tahun 2015 68,64 ton/ha, 2024 66,84 ton/ha, 2025 diperkirakan 75,24 ton/ha, 2026 74,1 ton/ha. Tahun 2015-2024 produksi TR tumbuh 2,51%/tahun, 2025-2026 9,61%.Sedang protas TR 2015-2024 turun 0,06%/tahun , 2025-2026 tumbuh 5,52%.
Total produksi tebu 2015 30.164.090 ton, 2024 33.216.610 ton, 2025 diperkirakan 39.537.310 ton, 2026 diperkirakan 40.548.490 ton. Protas total 2015 67,6 ton/ha, 2024 63,78 ton/ha, 2025 diperkirakan 72,83 ton/ha, 2026 diperkirakan 71,15 ton/ha. Produksi 2015-2024 tumbuh 1,57%/tahun 2025-2026 tumbuh 10,79%. Protas 2015-2024 turun 0,3%/tahun, 2025-2026 tumbuh 5,95%.
Eksentifikasi di lahan tadah hujan/marginal mampu mendorong luas areal namun berdampak pada stagnasi produktivitas tebu. Penyebab penanaman di lahan kering/marginal; penggunaan varietas yang tidak sesuai tipologi, pola tanam dan jenis kemasakannya; inefisiensi input produksi; budidaya tebu belum sesuai GAP.

