Jakarta, mediaperkebunan.id – Aceh adalah daerah penting penghasil kopi arabika. Produktivitasnya moderat 700-800 kuintal/ha, tidak ada perkembangan signifikan sejak tahun 2021. Tahun 2026 ini diperkirakan produksi akan turun karena bencana banjir dan longsor. Jose, General Manager Olam Food Ingridient -Indonesia Coffee Arabica menyatakan hal ini pada Diskusi Kopi Online “Langkah Kolektif Menuju Pemulihan Kopi Berkelanjutan” yang dilaksanakan oleh SCOPI (Sustainable Coffee Platform of Indonesia).
Kontribusi Aceh terhadap produksi kopi arabika nasional mencapai 30-31% dan akan tetap dominan pada tahun-tahun mendatang. Ketersedian lahan menjadi pembatas utama. Harus ada program bantuan benih kopi Gayo, peremajaan tanaman tua, dan pelatihan petani untuk menerapakn GAP untuk meningkatkan produktivitas.
Hasil pengamatan Jose menunjukkan di sentra produksi Tangkengon masih banyak kebun kopi yang bagus sehingga hasil panenya juga bagus. Demikian juga di Bener Meriah sehingga panen kuartal 4 tahun ini akan bagus. Produktivitas akan naik tetapi karena banyak kebun terkena bencana sehingga produksi akan turun.
Dampak bencana yang paling kritis adalah isolasi. Banyak kopi di gudang berjamur karena tidak bisa dijemur, jadi rusak. Di Tankegon karena bencana petani tidak dapat memanen dan memproses buah cherry sehingga banyak kehilangan hasil selama November – Desember.
Tiga tipe kerusakan yang dialami kopi adalah stok yang hilang karena tidak bisa dijemur; longsor yang menyebabkan kebun kopi hilang; kebun kopi yang terendam banjir; logistik yaitu rusaknya jalan dan jembatan menyebabkan petani tidak bisa ke kebun untuk memanen.
Kebun kopi terdampak bencana di Bener Meriah 10% dari total terdiri dari kebun hilang akibat longsor 1,8% dan sulit diakses 8,2%. Sedang di Aceh Tengah 23,4% terdiri dari kebun hilang 5,4%,terendam 2,8%, sult akses 5,2%.
Untuk kebun kopi yang hilang karena longsor tidak ada solusi. Sedang yang terendam banjir setelah banjir reda bisa dirawat, dipangkas, dipupuk sehingga bisa pulih. Kebun yang tidak bisa dijangkau solusinya adalah perbaikan infrastruktur tetapi perlu waktu lama. Olam sendiri rugi cukup besar karena tidak bisa memenuhi kontrak jangka panjang dengan pembeli. Kopi adalah bisnis jangka panjang, Olam tetap akan mendampingi petani.
Olam sudah lama bekerja untuk petani kopi melalui program choices for change menjaga resiliensi rantai pasok kopi dan pendampingan petani pada masa krisis. Didalamnya ada Coffee Lens untuk meningkatkan kesejahteraan petani kopi. Olam tahun 2026 menyediakan 1 juta benih untuk dibagikan kepada petani yang akan ditanam di Aceh 537 ha, Sumut 926 ha, Jabar 111 ha, Bali 185 ha.

