https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
8 June, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Kelapa sawit memegang peranan yang sangat penting bagi Indonesia baik sebagai sumber penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Pemerintah terus menerus memperbaiki tata kelola sawit, salah satunya dengan penerbitan Perpres nomor 44 tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia diikuti aturan turunannya yaitu Permentan nomor 38 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. Dedi Junaedi, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjenbun menyatakan hal ini dalam Webinar “ Sawit Indonesia Berkelanjutan dan Semakin Ramah Lingkungan” yang diselenggarakan Media Perkebunan di dukung BPDPKS dan GAPKI.

Tujuan sertifikasi ISPO baru (New ISPO) ini adalah memastikan dan meningkatkan pengelolaan serta pengembangan perkebunan kelapa sawit sesuai prinsip dan kriteria ISPO. Meningkatkan keberterimaan dan daya saing hasil perkebunan kelapa sawit Indonesia di pasar nasional dan internasional.

“Dengan diserahkannya sertifikasi pada Lembaga Sertifikasi menunjukkan pemerintah tidak lagi menentukan dalam proses sertifikasi. Skema sertifikasi mengacu pada UU nomor 20 tahun 2014 tentang Standarisasi dan Penilaian Kesesuaian. Komite Akreditasi Nasional yang masuk melakukan akreditasi pada Lembaga Sertfikasi. Ini merupakan norma yang berlaku dan diterima dunia internasional,” katanya.

Tujuan penting lainnya yang sesuai dengan hari lingkungan adalah meningkatkan upaya percepatan penurunan emisi gas rumah kaca. Menteri/Gubernur/Walikota/Bupati menjadi menjadi pembina dan pengawas proses serta implementasi ISPO.

Sertifikat ISPO juga hingga rantai pasok akhir/end product. Saat ini Kementerian Perindustrian sedang menyiapkan Keputusan Menteri Perrndustrian mengenai hal ini. New ISPO mampu telusuri (tracebility) yang merupakan tuntutan dunia internasional.

Dalam kesempatan sama, Pimpinan Umum Media Perkebunan, Gamal Nasir dalam sambutannya yang dibacakan Hendra J Purba, Pimpinan Usaha menyatakan tema webinar ini yaitu sawit Berkelanjutan Indonesia yang semakin ramah lingkungan. Tema ini diambil karena tuntutan dunia saat ini adalah keberlanjutan. Nilai ekspor kelapa sawit Indonesia menurut GAPKI tahun 2020 adalah USD22,97 miliar. Kontribusi minyak sawit terhadap devisa negara sangat signifikan dalam menjaga neraca perdagangan tetap positif. Untuk menjaga posisi ini maka mau tidak mau harus ikut yang diinginkan dunia saat ini yaitu keberlanjutan.

Baca Juga  Jangan Tanam Sawit, Tapi Tanam Durian?

Sawit juga banyak dipermasalahkan, terutama dari sisi lingkungan. Bermacam tudingan kepada sawit adalah sumber deforestasi, penyebab kebakaran lahan dan hutan, penyumbang emisi gas rumah kaca dan lain-lain.Kebakaran lahan dan hutan dalam tahun-tahun terakhir ini semakin berkurang. Setiap menjelang musim kemarau semua stake holder yang terkait selalu berkoordinasi supaya tidak terjadi lagi kebakaran.

Pemerintah Indonesia sudah banyak berbuat untuk memperbaiki tata kelola sawit diantaranya dengan UU Ciptakerja untuk menyelesaikan sawit dalam kawasan hutan, Perpres dan Permentan ISPO, Inpres 6 tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Sawit Berkelanjutan Indonesia. Pemerintah sudah berusaha serius supaya sawit semakin ramah lingkungan. Hal ini harus disosialisasikan baik di dalam negeri dan di luar negeri. Stigma sawit buruk bagi lingkungan yang sangat kuat di masyarakat Eropa harus diatasi dengan kampanye yang intensif.

PR lainnya adalah masalah proper. Dari subsektor industri agro yang peringkatnya merah didominasi sawit yaitu 55%. Hal ini tidak bisa dibiarkan, perlu perbaikan sebab bisa jadi amunisi baru untuk menyerang kelapa sawit.

(Visited 31 times, 1 visits today)