13 February, 2016

Nestle mengembangan pusat pelatihan untuk kopi dan kakao bukan sebagai bentuk kegiatan Coorporate Social Responsibility (CSR) bertujuan untuk mewujudkan prinsip sustainbilty. Demikian disampaikan Wisman Djaja, Director Sustable Agriculture Development & Procurement, Nestle.

“Perusahaan kami ingin tetap bertahan hingga 100 tahun yang ke depan sehingga itu mustahil diwujudkan jika petani tidak mampu memperoleh penghasilan di atas UMR. Itulah pemahaman saya tentang keberlanjutan”, kata Wisman pada pertemuan dengan pejabat pusat di kebun percontohan Nestle , Kabupaten Tanggamus.

Oleh sebab itu Nestle melakukan pembinaan petani dan pemberian bantuan bibit kopi di kebun percontohan yang ada di kabupaten Tanggamus, Lampung. Sementara kebun contoh dan pelatihan kakao berada di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Menurut Wisman salah satu upaya untuk mendorong sustaibility adalah melalui perbaikan mutu dan produksi. “Jika produksi ditingkatkan maka penghasilan petani akan meningkat. Kami juga memberikan insentif buat kopi petani kurang lebih US $ 40/ton”, tambahnya. Untuk mutu Nestle melakukan sertifikasi dari sejumlah lembaga berkompeten seperti rainforest, 4C utamanya pada kakao.

Sementara untuk introduksi teknologi Nestle bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, baik pada kopi maupun kakao. Pada kesempatan tersebut Rohadi petani kopi binaan Nestle mengakui dampak pembinaan dari perusahaan raksasa tersebut. “Hanya saja katanya, Nestle hanya mau membeli biji kopi grade 4, dan hanya membeli selama 6 bulan semantara stok kami di gudang masih banyak”.

Di sisi lain Nestle sepertinya tidak memberikan wawasan tentang pasar, hal yang tentu saja bertentangan dengan tujuan bisnisnya. Pasalnya bahwa di pasar kopi maupun kakao terdapat pasar spesifik yang siap menampung biji kopi dan kakao berkualitas seperti cafe, produk mewah. Petani kopi tidak mengetahui sisi lain dari kopi selain dari kadar air dan biji afkir. Padahal harga kopi juga dapat dipengaruhi mutu seperti flavour, story. Rohadi mengakui bahwa petani tidak mengetahui tentang cup test yang merupakan penentu cita rasa.

Demikian dengan kakao tidak banyak petani yang mengetahui bahwa biji kakao tidak sekedar bean counted dan kadar melainkan juga hal lain seperti kandungan polifenoi, kandungan lemak hingga flavour.

Faktanya ketika petani mengaku menjual biji kopi dengan harga Rp. 21 ribu/kg sementara di Bali, petani di Pupuan Tabanan berhasil menjual biji kopi robusta hingga Rp. 28 ribu/kg dengan melakukan ekspor sendiri dengan menyasar pasar cafe di Eropa dan Korea Selatan yang menyediakan seduhan kopi dari special blending

Demikian juga dengan kakao, ketika banyak perusahaan besar membanggakan diri karena telah membeli harga biji kakao petani sesuai dengan terminan New York, faktanya petani di Polewali Mandar Sulbar, Luwu Utara Sulsel dan Badung. Bali sukses menjual biji kakaonya Rp 3.000 sd 7.000 di atas harga pasar. .

Sekali it’s about business, hanya saja Nestle setidaknya melakukan hal yang lebih baik dari ribuah perusahaan global yang tidak pernah menyadari arti sesungguhnya dari sustaibility. YIN

(Visited 204 times, 1 visits today)