Medan, mediaperkebunan.id – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tetap pada keputusannya: memberlakukan tarif impor atau bea masuk bagi banyak negara, termasuk bagi Indonesia, yang ingin menjual berbagai produk ke AS.
Setelah sempat ditunda selama beberapa bulan, Presiden Donald Trump kembali kepada keputusannya, yaitu mengenakan bea masuk tersebut mulai 1 Agustus 2025. Dan untuk Indonesia dikenakan bea masuk sebesar 32 persen untuk semua produk yang dijual ke AS, termasuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
“Kebijakan Presiden Donald Trump itu pada dasarnya mengancam industri perkebunan kelapa sawit di Tanah Air, khususnya yang ditujukan langsung ke pasar di Amerika Serikat,” ucap Gunawan Benjamin selaku pengamat ekonomi asal kota Medan kepada Mediaperkebunan.id, Sabtu (12/7/2205).
Namun yang menarik, kata pengajar ekonomi di sejumlah kampus ternama di Medan ini,, untuk saat ini harga CPO justru bergerak dalam tren naik sejak Juni 2025 kemarin. “Dari sebelumnya dijual di kisaran $ 923 per ton pada awal Juni, saat ini ditransaksikan di kisaran harga $ 950 per ton,” ungkap Gunawan Benjamin lebih lanjut.
Harga CPO terpantau naik bahkan setelah AS menetapkan kenaikan tarif untuk beberapa negara termasuk Indonesia. Dan sejauh ini kebijakan tersebut belum memberikan tekanan terhadap harga CPO.Dia bilang, demand atau permintaan yang masih cukup tinggi menjadi salah satu pendorong kuatnya harga CPO saat ini, termasuk demand dari India.
Gunawan mengatakan, demand dari India pada bulan Juli 2025 diproyeksikan mengalami peningkatan berkisar 7 persen sampai 8 persen, dibandingkan dengan bulan Juni 2025 atau perhitungan secara bulanan atau month to month (mtm).
Menurut Gunawan Benjamin, permintaan india tetap tinggi karena akan merayakan festival tradisional Deepavali yang secara rutin mendorong peningkatan CPO setiap tahunnya. Selain perayaan Deepavali, dirinya melihat ekspor CPO juga masih akan ditentukan dengan kepastian besaran tarif impor berikut kapan akan dimulai kebijakan tersebut
.Perayaan Deepavali akan menjadi penentu besaran ekspor CPO dari Indonesia khususnya Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ke India nantinya. India masih menjadi konsumen sawit terbesar Tanah Air, yang juga terkena imbas dari kenaikan tarif Presiden AS, Donald Trump.
Gunawan Benjamin menilai Indonesia masih harus menanti terlebih dahulu bagaimana titik keseimbangan harga CPO yang terbaru di pasar domestik dan pasar global.
“Dan perayaan Deepavali akan menjadi gambaran yang jelas bagaimana konsumsi masyarakat di India pada bulan Oktober mendatang,” ungkap Gunawan Benjamin.
Jadi, sambungnya, sekalipun harga CPO sejauh ini belum begitu mengalami perubahan dan cenderung naik di saat tidak terjadi kesepakatan. Bukan berarti ancaman benar-benar telah hilang sepenuhnya.
Kebijakan tarif AS belum sepenuhnya serentak dilakukan di banyak negara. Masih butuh waktu untuk melihat dampak dari kenaikan tarif tersbeut terhadap kinerja harga CPO nantinya.
Dan jika terjadi penurunan konsumsi di India saat perayaan Deepavali, maka itu akan menjadi indikator awal yang akan diperhitungkan dalam memproyeksikan kinerja ekspor CPO ke India di masa mendatang. Artinya kenaikan harga CPO saat ini bukan final sebagai kenaikan yang akan terus terjadi selanjutnya.
“Walaupun kenaikan tarif yang dilakukan oleh AS berpeluang menciptakan tekanan ekspor produk pertanian pesaing minyak sawit,” tegas Gunawan Benjamin.

