Jakarta, mediaperkebunan.id – Secara akumulatif, neraca perdagangan Indonesia dari sektor nonmigas, termasuk dari subsektor perkebunan dan produk olahannya, mulai Januari sampai November 2024 surplus sebesar USD 47,50 miliar.
Bahkan, menurut Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam sebuah keterangan resmi yang di kutip Media Perkebunan di laman resmi Kementerian Perdagangan (Kemendag), di bulan November 2024 Indonesia surplus untuk ekspor nonmigas sebesar USD 5,67 miliar secara tahunan atau year on year (yoy).
Tetapi, kata mantan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Dirjen Daglu) Kemendag ini, untuk periode November 2024, total ekspornya senilai USD 24,01 miliar atau turun 1,70 persen secara bulanan atau month to month (Mtm) di banding Oktober 2024.
“Penurunan ini terjadi akibat turunnya ekspor nonmigas sebesar 1,67 persen dan migas sebesar 2,10 persen (MtM). Namun demikian, ekspor November tahun ini meningkat 9,14 persen di banding November tahun lalu (YoY),” kata dia.
Penurunan kinerja ekspor nonmigas pada November 2024, ungkapnya, di sebabkan oleh turunnya ekspor barang tembaga dan barang daripadanya (HS 74) sebesar26,66 persen; kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) sebesar 21,34 persen.
Berikutnya, ia menambahkan, ekspor bijih logam, terak, dan abu (HS 26) turun sebesar 21,33 persen; kakao dan olahannya (HS 18) turun 15,42 persen; serta pulp dari kayu (HS 47) 14,34 persen (MtM).
Di tengah penurunan ekspor nonmigas tersebut, Budi Santoso menjelaskan, terdapat beberapa produk utama yang justru naik ekspornya, di antaranya nikel dan barang daripadanya (HS 75) yang naik 87,26 persen.
Kemudian ekspor aluminium dan barang daripadanya (HS 76) 49,70 persen; mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) 15,97 persen; berbagai produk kimia (HS 38) 8,55 persen; serta besi dan baja (HS 72) 6,91 persen (MtM).
Mendag Budi Santoso mengungkapkan, Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia, termasuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada November 2024 dengan total nilai ekspor ketiganya mencapai USD 10,16 miliar.
“Ketiga negara ini berkontribusi sebesar 44,82 persen dari nilai ekspor nonmigas nasional. Di sisi lain, beberapa negara tujuan ekspor nonmigas dengan peningkatan signifikan,” ungkapnya lagi.
Negara-negara tersebut, kata dia, antara lain Qatar yang melonjak sebanyak 1.061,73 persen, di ikuti Spanyol yang tumbuh 127,36 persen, Pakistan 56,37 persen, Meksiko 29,69 persen, dan Bangladesh 20,64 persen (MtM).
Di tinjau dari kawasannya, Budi Santoso bilang tujuan ekspor nonmigas dengan peningkatan antara lain Eropa Selatan yang naik 22,95 persen, Amerika Tengah 20,13 persen, Asia Barat 16,79 persen, Afrika Timur 13,79 persen, dan Afrika Barat 10,56 persen.
Budi Santoso yakin kalau pertumbuhan ekspor nonmigas ke pasar nontradisional merefleksikan adanya peluang peningkatan ekspor di tengah tantangan perekonomian dan perdagangan global pada 2024.
“Sedangkan tujuan ekspor nonmigas yang menurun di November 2024 di antaranya adalah Australia yang turun 37,92 persen, Eropa Barat 30,68 persen, Asia Tengah 21,46 persen, Afrika Tengah 18,51 persen, dan Karibia 12,84 persen,” ujarnya.
Impor Karet dan Gandum
Di sisi lain, Budi Santoso mengatakan impor pada November 2024 tercatat sebesar USD 19,59 miliar atau turun 10,72 persen di bandingkan Oktober 2024 (MtM).
Namun, ujarnya, di bandingkan November tahun lalu (YoY), nilainya naik tipis 0,01 persen. Penurunan impor bulan November 2024 ini di sebabkan penurunan impor nonmigas sebesar 6,87 persen dan sektor migas sebesar 29,89 persen (MtM).
Mendag Budi Santoso memaparkan, penurunan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang pada November 2024.
Penurunan impor terdalam di alami bahan baku atau penolong yang turun sebesar 11,97 persen, di ikuti barang modal 10,77 persen dan barang konsumsi 0,84 persen (MtM).
“Pelemahan impor bahan baku atau penolong dan barang modal seiring dengan terkontraksinya industri manufaktur Indonesia yang di indikasikan oleh skor PMI November 2024 sebesar 49,6,”ungkap Mendag Budi Santoso.
Bahan baku atau penolong yang impornya turun signifikan antara lain gandum, pupuk, kondensat, bijih nikel dan konsentratnya, dan ban kendaraan berat.
Sementara itu, impor barang modal yang turun paling dalam adalah generator sinyal, portal atau pedestal jib crane, modul kompresi gas untuk pengeboran minyak, apparatusradio kendali jarak jauh, dan reservoiratau tangki di lapisi atau di isolasi panas.
Impor barang konsumsi yang juga menurun adalah mobil van, mobil sedan listrik, obat analgesik dan antipiretik untuk batuk dan pilek, mobil hibrida, dan mobil station wagonlistrik.
Beberapa produk impor nonmigas dengan kontraksi terdalam secara bulanan pada November 2024, antara lain ampas dan sisa industri makanan (HS 23) yang turun 38,71 persen.
Selanjutnya, bijih logam, terak, dan abu (HS 26) turun 24,77 persen; berbagai produk kimia (HS 38) 24,20 persen; karet dan barang dari karet (HS 40) 21,11 persen; serta kakao dan olahannya (HS 18) 17,37 persen (MoM).
Berdasarkan negara asal, Budi Santoso mengatakan, impor nonmigas Indonesia masih di dominasi dari Tiongkok, Jepang, dan AS dengan nilai sebesar USD 8,78 miliar dan pangsa sebesar 51,58 persen dari nilai impor nonmigas Indonesia pada November 2024.
Beberapa negara asal impor nonmigas dengan kontraksi impor pada November 2024 terutama berasal dari Selandia Baru yang turun 65,92 persen, di ikuti Rusia 54,07 persen, Hongkong 43,27 persen, Inggris 38,82 persen, dan Afrika Selatan 32,85 persen (MtM).
Selama periode Januari–November 2024, kata dia, total impor Indonesia tercatat sebesar USD 212,39 miliar atau naik 4,74 persen di banding periode yang sama tahun lalu (CtC) sebesar USD 202,78 miliar.
Sebagai informasi, CtC adalah Change in Tariff Classification yang selanjutnya di singkat CTC adalah perubahan klasifikasi pada proses produksi barang yang menggunakan bahan baku yang bukan berasal dari negara anggota perjanjian atau kesepakatan internasional.
“Peningkatan ini di dorong oleh meningkatnya impor nonmigas sebesar 5,34 persen dan migas 1,60 persen (CtC),” tegas Mendag Budi Santoso.

