12 August, 2020

JAKARTA, Mediaperkebunan.id – Meski ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) anjlok 11 persen pada semester I-2020. Namun nilai ekspor komodoti sawit naik dari USD 1,474 miliar menjadi USD 1,624 miliar.

Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, penurunan ekspor CPO ini terjadi karena berbagai negara tujuan ekspor lockdown akibat pandemi COVID-19. “Ekspor kita year-on-year Juni itu turun 11 persen dibandingkan tahun lalu,” katanya dalam press conference secara virtual di Jakarta, Rabu (12/8/2020).

Joko mengatakan, 70 persen sawit yang diproduksi di dalam negeri diekspor. Sedangkan hampir semua negara tujuan ekspor mengalami kontraksi dari sisi permintaan karena lockdown sejak awal tahun.

Joko menyebutkan, pasar ekspor utama CPO seperti Eropa, India, China, mengalami lockdown. “Jadi demand secara global mengalami pelemahan yang sangat signifikan sehingga ini juga berdampak pada ekspor kita yang mengalami penurunan 11 persen,” ujarnya.

Dari sisi produksi, Joko mengungkapkan, dibandingkan bulan Mei 2020, produksi CPO pada bulan Juni naik 13,5 persen atau mencapai 4.096 ribu ton. Sedangkan konsumsi dalam negeri turun 3,5 persen menjadi 1.331 ribu ton, ekspor naik signifikan 13,9 persen menjadi 2.767 ribu ton.

Dari sisi harga CPO, kata Joko, masih menunjukkan kenaikan dari rata-rata USD 526 pada bulan Mei menjadi USD 602 per ton-Cif Rotterdam pada bulan Juni. Nilai ekspor juga naik dari USD 1,474 miliar menjadi USD 1,624 miliar.

Jika dibandingkan Januari-Juni 2019, produksi CPO dan PKO Januari-Juni 2020 sebesar 23.504 ribu ton adalah 9,2 persen lebih rendah, konsumsi dalam negeri sebesar 8.665 ribu ton atau 2,9 persen lebih tinggi, volume ekspor adalah 15.503 ribu ton atau 11,7 persen lebih rendah dan nilai ekspornya 6,4 persen lebih tinggi menjadi senilai USD 10.061 juta.

Produksi bulan Juni yang lebih tinggi dari bulan Mei 2020 diduga selain karena carry over produksi bulan Mei yang terkendala karena lebaran juga sebagian provinsi telah masuk ke periode tren produksi naik.

Konsumsi dalam negeri bulan Juni yang masih lebih rendah dibandingkan dengan bulan Mei, diduga masih disebabkan oleh PSBB. Konsumsi untuk pangan turun 3,9 persen menjadi 638 ribu ton. Persentase penurunan konsumsi pangan lebih rendah dari rata-rata penurunan 3 bulan sebelumnya sebesar 5,4 persen.

Joko menyebutkan, kenaikan terbesar untuk ekspor dengan tujuan India (52 persen) menjadi 583 ribu ton, Afrika (43,3 persen) menjadi 271 ribu ton, China (33 persen) menjadi 440 ribu ton, dan Pakistan (32 persen) menjadi 203 ribu ton.

“Kenaikan ekspor CPO ke India mencapai 206 ribu ton dari total kenaikan sebesar 200 ribu ton, namun terjadi penurunan pada ekspor produk lain terutama refined palm oil,” ujar Joko. (YR)

(Visited 89 times, 1 visits today)