Padang, mediaperkebunan.id – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan keynote speech pada Kongres VII Ikatan Keluarga Alumni Universitas Andalas (IKA Unand), pekan lalu, Di hadapan para alumni, akademisi, dan tokoh daerah, secara daring Mentan Amran menekankan pentingnya kolaborasi besar antara pemerintah pusat, daerah, dan perguruan tinggi untuk mempercepat hilirisasi komoditas nasional dan mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
Salah satu poin menarik dalam keynote speech tersebut adalah penjelasan Mentan mengenai potensi besar komoditas gambir, yang sebagian besar dihasilkan Sumatera Barat.
Mengutip hasil penelitian akademisi dari Universitas Andalas, Mentan Amran menyebut gambir memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. “Ini data sumbernya dari Universitas Andalas, Doktor Muhammad Makky. Ada potensi sampai Rp500 triliun jika kita hilirisasi, kami sudah bahas marathon mudah-mudahan tidak ada aral melintang” jelas Amran.
Ia menambahkan bahwa BUMN telah menyatakan kesediaannya untuk masuk, dan rencana hilirisasi gambir sudah dilaporkan kepada Presiden. Program pembangunan pabrik pengolahan gambir pun tengah disiapkan, dengan estimasi nilai investasi sekitar Rp1 triliun untuk 4–5 pabrik.
“Ini luar biasa, dan saya mohon Unand dan alumni Unand ikut mengawal, karena added value nya luar biasa.” harap Mentan Amran pada para peserta.
Hilirisasi yang menjadi fokus utama Mentan Amran turut ditegaskan oleh Rektor Universitas Andalas, Prof. Efa Yonnedi, yang hadir dalam forum tersebut. Ia mengungkapkan bahwa Universitas Andalas telah memberikan kontribusi nyata bagi bangsa melalui hilirisasi riset, salah satunya pada komoditas gambir.
“Yang disumbangkan Unand untuk bangsa adalah hilirisasi dari riset—riset, pengembangan, prototype, produk lalu kita jual. Ini ada di bidang gambir. Produknya adalah tinta organik yang digunakan pada Pemilu 2024. Itu satu juta botol kita produksi dan dipakai di lebih dari 60 TPS,” ujar Prof. Efa.
Selain tinta pemilu, ia menjelaskan bahwa inovasi hilirisasi Unand juga telah merambah sektor bioteknologi kesehatan.
“Ada kemasan bioteknologi kesehatan, reagen untuk kanker, reagen untuk TBC, kemudian reagen untuk tes darah. Ada 32 produk lebih yang sudah memiliki izin edar dan masuk e-katalog. Tinggal masyarakat beli dan produk ini sudah siap digunakan,” tambahnya Rektor.
Selain mengenai hilirisasi gambir, Mentan Amran menyoroti komoditas kelapa, yang juga memiliki potensi besar di Sumatera Barat. Ia menjelaskan bahwa hilirisasi kelapa dapat meningkatkan nilai jual hingga 100 kali lipat.
“Harga kelapa di luar negeri seperti China bisa mencapai Rp30.000 per biji. Kita baru dapat sekitar Rp3.500. Saat ini nilai ekspornya rata-rata mencapai Rp24 triliun. Jika hilirisasi air kelapanya, kita kemas, buat packagingnya yang bagus itu menghasilakan 2.436 Trilyun.” terang Mentan Amran
Ia menegaskan bahwa hilirisasi merupakan pilihan strategis untuk menguatkan ekonomi nasional sekaligus menyiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

