Jakarta, mediaperkebunan.id – Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman hadir memberikan pidato tentang kondisi pangan Indonesia pasca kebijakan tekan impor dalam acara Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Program Hilirisasi Komoditas Prioritas Perkebunan.
Dalam pidatonya, Mentan memberikan apresiasi terhadap keberhasilan pangan Indonesia yang mampu menempati urutan kedua setelah Brasil dalam daftar pemain pengan dunia menurut Food and Agriculture Organization (FAO).

Menurutnya, kebijakan menekan impor yang dua tahun lalu memakan biaya hampir 1 triliun memiliki andil besar dalam tercapainya hal tersebut.
“Indonesia mampu menurunkan harga pangan dunia dari 560 dollar menurun tajam jadi 320 dollar karena Indonesia tidak mengimpor. Pada tahun 2023 sebanyak 3 juta ton , tahun 2024 sebanya 4 juta ton, sehingga totalnya mencapai 7 juta ton dan nilainya hampir 100 triliun. Kita berhenti impor sehingga harga pangan dunia turun,” ujar Mentan.
Belum sampai Desember, produksi beras pada tahun 2025 juga mengalami lonjakan yang signifikan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sampai Oktober 2025 total produksi beras sudah mencapai lebih dari 31 ton, dimana pada tahun-tahun sebelumnya pada rentang bulan yang sama hanya menghasilkan sekitar 27-28 juta ton.
“Stok beras pemerintah selama 57 tahun terhitung pada bulan Juni 2025 adalah 4,2 juta ton, ini tertinggi sepanjang sejarah,” ungkapnya.
Diketahui, harga beras dunia pada 2025 sempat jatuh ke level terendah selama 8 tahun. Harga beras putih Thailand yang menjadi acuan perdagangn globa merosot dari USD 563,5 per ton pada September 2024 menjadi USD 372,5 per ton per Juli 2025 nilai ini dinilai ambruk 26%.
Keputusan Indonesia menghentikan impor beras dari Thailand memberi tekanan pada sang eksportir yang selama ini mengandalkan pasar Indonesia. Kombinasi antara surplus produksi dan perebutan pasar dari tekan impor membuat harga global menurun ke level terendah.

