Jakarta, mediaperkebunan.id – Ganoderma masih menjadi momok bisnis kelapa sawit. Bagaimana mendeteksi penyakit yang paling merusak ini? Kini ada teknologi yang bisa deteksi sejak dini ganoderma. Apa itu?
Ganoderma sp. menjadi penyakit yang paling merusak pada kelapa sawit, baik pada tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM) di Indonesia. Penyakit yang mengakibatkan busuk pangkal batang (BPB) ini telah menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi agribisnis kelapa sawit.
Gejala serangan Ganoderma terus meningkat pada tanaman generasi kedua atau ketiga hingga mencapai 40%. Bahkan, penyakit BPB saat ini juga mulai menyerang tanaman generasi pertama pada daerah pengembangan baru kelapa sawit di Sulawesi dan Papua.
Tanaman kelapa sawit umumnya memang peka terhadap Ganoderma sp. Ironisnya, upaya untuk memperoleh bahan tanaman yang tahan Ganoderma sp. terkendala lamanya siklus seleksi dan sempitnya keragaman genetik yang tersedia. Di samping itu, hasil analisis menggunakan RAPD dengan Internal Transcribed Spacer (ITS) DNA ribosom menunjukkan bahwa keragaman genetik Ganoderma sp. tergolong tinggi.
Sulitnya deteksi sejak dini serangan Ganoderma ini membuat pengendalian penyakit BPB kelapa sawit menghadapi kendala tersendiri. Pada saat gejala serangan mulai terlihat, umumnya tanaman sudah sulit diselamatkan. Untuk itu diperlukan teknologi yang mampu mendeteksi serangan Ganoderma sp. sejak dini.
Infeksi Ganoderma sp. pada kelapa sawit diawali dengan kolonisasi hifa intra seluler yang tumbuh cepat dan lebat pada jaringan korteks. Gejala selanjutnya diikuti produksi metabolit sekunder dan enzim-enzim ligninolitik. Keberadaan metabolit sekunder dan enzim-enzim ligninolitik tersebut kemungkinan dapat dideteksi dengan teknik serologi.
Teknik serologi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan pelacak DNA. Teknik tersebut lebih cepat, sederhana, dan mudah diaplikasikan di lapangan untuk pemeriksaan sampel dalam jumlah banyak dengan biaya relatif murah. Teknik serologi diketahui dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit BPB kelapa sawit di lapang.
Tersedianya perangkat deteksi dini tersebut bermanfaat untuk memonitor serangan dan melengkapi manajemen pengendalian penyakit Ganoderma sp. secara terpadu dengan konsep penyehatan lahan melalui kombinasi perlakuan biologi, kimia, fisik, serta mekanis. Teknik serologi perlu dirakit dalam bentuk perangkat diagnostik sederhana dan dikemas sedemikian rupa sehingga lebih mudah dibawa dan diaplikasikan di lapangan.
Hasil penelitian Tim Peneliti dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (sekarang PPKS Bogor) menunjukkan bahwa perangkat serologi mampu mendeteksi material antigenik Ganoderma sp. yang diekstraksi dari miselium dengan kadar protein 123,13–207,5 μg/mL. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya spot atau bercak berwarna cokelat pada kertas uji yang cukup kuat yang terjadi karena dalam ekstrak miselium mengandung komponen-komponen anti-genik yang bereaksi secara spesifik dengan antibodi IgY anti Ganoderma sp.
Riset tersebut juga menyebutkan bahwa pelukaan jaringan dan penempelan substrat kayu karet merupakan cara yang efektif untuk menginokulasi Ganoderma sp. pada bibit kelapa sawit. “Berdasarkan pengamatan visual bibit kelapa sawit yang telah terinfeksi, pertumbuhannya terlihat terhambat, daun terlihat memucat atau mengalami klorosis, akar menjadi nekrosis dan membusuk,” ungkap Suharyono, salah seorang anggota peneliti itu.
Peneliti menuturkan bahwa terjadinya pembusukan tersebut diduga karena peran enzim-enzim ligninolitik yang dihasilkan Ganoderma sp. Miselium muda mensekresi enzim-enzim aktif pendegradasi lignoselulosa seperti lakase, Mn-peroksidase, lignin peroksidase, hemiselulase, dan selulase. Sebaliknya, bibit kelapa sawit yang tidak diinokulasi Ganoderma sp. mempunyai akar yang sehat dan tidak nekrotik.
Hasil deteksi dengan perangkat serologi menunjukkan spot yang kuat pada bibit sawit yang diinokulasi dengan Ganoderma sp. Sebaliknya, pada bibit sehat tidak ditemukan spot. Riset juga memperlihatkan bahwa deteksi paling kuat terjadi pada pangkal batang dibandingkan pada bagian akar dan daun.
Berdasarkan pengamatan semi-kuantitatif uji teknik serologi, angka pangkal batang yang merupakan titik infeksi pada umumnya lebih rendah daripada angka RGB pada akar dan daun kelapa sawit sehat. Angka RGB pada akar bibit kelapa sawit yang diinokulasi seharusnya lebih rendah daripada pada angka RGB akar kelapa sawit sehat. Namun, hasil yang diperoleh justru sebaliknya.
Penyebab dari ketidaksesuaian ini belum diketahui secara pasti. Namun demikian, hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi akar yang diinokulasi telah busuk menyebabkan sampel rusak sehingga teknik serologi tidak bisa mendeteksi dengan baik.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa teknik serologi dapat mendeteksi infeksi Ganoderma sp. dari sampel daun, akar, dan batang tanaman kelapa sawit terinfeksi Ganoderma sp. pada berbagai kriteria gejala serangan. Hasil deteksi yang menghasilkan reaksi paling kuat berturut-turut adalah sampel dengan kode kriteria merah (stadium 2), kuning (stadium 1), hitam (stadium 3), sedangkan yang paling lemah adalah kode kriteria hijau.
Walaupun dengan sinyal lemah, deteksi tanaman dengan kriteria kode hijau menunjukkan bahwa kemungkinan besar tanaman tersebut sebenarnya sudah mulai terinfeksi. Namun gejala visual belum kelihatan. “Hal ini kemungkinan karena tanaman tersebut berada di kebun yang sudah terserang Ganoderma sp. dengan tingkat infestasi yang cukup tinggi, 10%–20%, sehingga kontak akar tanaman sakit dengan tanaman sehat akan mudah terjadi,” ujar Suharyono.
Menurut peneliti, bagian tanaman yang memberikan reaksi paling kuat dan konsisten adalah bagian pangkal batang. Hal ini dapat dipahami karena pada pangkal batang banyak mengandung substrat mudah tersedia (gula dan pati) sehingga konsentrasi dan aktivitas patogen yang berada pada daerah tersebut lebih tinggi.
Pada stadium empat (putih), karena tanaman kelapa sawit sudah tumbang dan tidak terdapat sisa tunggul, maka yang diambil sampelnya adalah tanah. Dari hasil pengujian sampel tanah tidak terdapat reaksi yang kuat antara antigen dengan antibodi, data RGB memperlihatkan angka pada sampel pangkal batang kode merah (stadium 2) lebih kecil dibandingkan dengan nilai RGB pada kode sampel lainnya. Hal ini diduga karena daerah pangkal batang merupakan daerah kolonisasi dan perkembangan hifa tersier patogen Ganoderma sp.

