Jakarta, mediaperkebunan.id – Industri kelapa sawit terus bergerak menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Salah satu terobosan mutakhir yang kini gencar diimplementasikan adalah pemanfaatan Palm Oil Mill Effluant (POME) atau limbah cair Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Langkah ini dinilai sebagai wujud nyata penerapan ekonomi sirkular di mana polutan yang semula membebani lingkungan kini disulap menjadi komoditas energi bersih berupa biogas dan listrik bernilai tinggi. Hal ini tidak hanya menjadi solusi ampuh dalam mengatasi polusi pencemaran air dan udara, tetapi juga membuka peluang efesiensi miliaran rupiah bagi para pelaku industri.
Melalui proses fermentasi anaerobik, pemanfaatan Palm Oil Mill Effluant (POME) atau limbah cair Pabrik Kelapa Sawit (PKS) ini mampu menghasilkan gas metan yang menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik. Teknologi ini tidak hanya menawarkan solusi pengelolaan limbah, tetapi juga menjawab tantangan krisis energi di kawasan pelosok.
Bagaimana limbah cair berubah menjadi setrum?
Melansir dari berbagai sumber, proses konversi dari limbah cair pabrik kelapa sawit berbau menyengat hingga menjadi aliran listrik yang menerangi rumah warga sejatinya mengandalkan kehebatan mikroorganisme alami. Secara teknis, proses ini terbagi menjadi tiga fase utama :
- Tahap Penampungan Cairan (POME)
Langkah awal, limbah cair segar dari sisa pengolahan kelapa sawit dialirkan dan dikumpulkan ke dalam instalasi khusus. Biasanya, pabrik menggunakan sistem tangki raksasa kedap udara (biodigester) atau kolam penutup (covered lagoon).
- Fermentasi Anaerobik (Pemberdayaan Bakteri)
Di dalam lingkungan penampungan yang terisolasi dari oksigen, jutaan bakteri bekerja mengurai senyawa organik limbah. Proses biologis ini berjalan melalui tiga sub-tahap: hidrolisis (pemecahan senyawa kompleks), asidifikasi (pembentukan asam), hingga metanogenesis yang menghasilkan gas metan (CH_4)
- Pemanenan Biogas dan Konversi Energi
Tahap akhir, gas metan yang terjebak di langit-langit instalasi kemudian disedot, disaring, dan dialirkan menuju generator pembangkit (genset) atau boiler. Gas ini dibakar untuk menggerakkan turbin, menghasilkan daya listrik siap pakai.
Potensi energi yang dihasilkan dari limbah sawit ini tergolong sangat masif,. Jika dibedah secara matematis, volume limbah berbanding lurus dengan kemandirian energi yang didapatkan.
Dalam skala industri besar, Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berbasis POME rata-rata mampu memproduksi daya hingga hitungan Megawatt (MW). kapasitas ini tidak hanya menutup total kebutuhan total operasional pabrik, tetapi juga memiliki kelebihan daya (excess power) yang melimpah. Kelebihan setrum inilah yang kini banyak dialirkan untuk melistriki ribuan kepala keluarga di wilayah pelosok dan sekitar perkebunan yang belum terjangkau optimal oleh jaringan listrik utama.
Pada acara 1st Internasional Environment Forum (IEF) dalam rangka Hari Bumi yang dilaksanakan Media Perkebunan dengan dukungan BPDP sebelumnya, Sakti A. Siregar, Praktisi P3PI, Sekjen Asosiasi Biogas Indonesia (ABGI) menyatakan PKS bisa mengubah POME menjadi biogas untuk pembangkit listrik. Saat ini pembangkit listrik tenaga biogas ada 84 unit, kapasitas 165 MW dan on grid 53,7 MW. Sedang dibangun 5 CBG yaitu 2 DSN, 1 Anglo Eastern, 1 Sipef, 1 TSE, 1 PTPN, 11 Nubika/PHG. Sampai desember 2024 pemanfaatan cooking 94.626.065 m3, biogas boiler 68.682.582 m3, biomethane 9.097.135 m3.
Dalam rencana umum energi nasional pemanfaatan biogas ditargetkan menyumbang kapasitas pembangkit listrik berbasis bioenergy 5,5 GW, serta pengembanan volume biogas hingga 489,8 juta m3 pada tahun 2025. Biogas yang telah dimurnikan dapat di upgrade menjadi biomethane compresed gas dengan potensi bahan baku nasional mencapai 9.96 Nm3/tahun
Salah satu contoh pemanfaatan POME di Indonesia yang sudah dilakukan adalah PLTBg. Potensi pemanfaatan limbah cair kelapa sawit Indonesia sudah dimulai oleh badan usaha milik negara, Pertamina. Bahan bakar PLTBg merupakan sumber energi bersih yang tidak menghasilkan limbah polusi udara dan bahkan terbukti mengurangi pencemaran udara dan tanah berbahan dasar POME yang sudah dimanfaatkan Pertamina.
Sudah dimanfaatkan sejak bulan Januari 2020, PLTBg yang telah dimanfaatkan PT Pertamina mampu menyerap POME sampai 288.350 meter kubik dan memiliki kapasitas sebesar 2.4 MW. karena gas metana yang diubah menjadi biogas dalam jumlah yang sangat besar, pemanfaatan POME mampu turunkan emisi karbon sebesar 70 ribu per tahun sehingga berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Selain dapat menghasilkan energi terbarukan di Indonesia, terbukti bahwa pemanfaatan biogas POME melalui serangkaian proses juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Pada tahun 2018, Sekbid Humas Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) mengatakan bahwa lahan kelapa sawit Indonesia sebanyak 14 juta hektar dan menghasilkan 146 ton sawit kemudian diolah menjadi 35 juta ton CPO, 28,7 juta ton POME, dan 26,3 juta ton fiber setiap tahunnya.
Wib Humas EBTKE mengatakan bahwa potensi listrik yang dapat dibangkitan oleh pabrik kelapa sawit di Indonesia bisa mencapai hingga 15GW, di mana 1,5 GW-nya berasal dari POME. Saat ini yang baru dimanfaatkan sebagai energi listrik sebesar 30 MW on grid dan off grid, dimanfaatkan sendiri kemudian hasilnya dijual ke PLN dn ada juga yang dibangun untuk kemudian disambungkan ke PLN.
Sampai saat ini, ada sekitar 1.8 GW PLT Bio sudah terbangun di Indonesia, termasuk dari POME dari sekitar 22,8 on grid dan 9 MW off grid.
Sejalan dengan hal itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengungkapkan pada siaran pers di Jakarta 2 Oktober 2024, “Menghargai limbah kelapa sawit dan pertanian, dapat menghasilkan peluang ekonomi, khususnya di daerah pedesaan. Dengan berinvestasi pada praktik-praktik ini, kita dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani kecil, serta memperkuat mata pencaharian masyarakat setempat. Ini lebih dari sekadar keberlanjutan, sebab ini tentang memberdayakan masyarakat kita.” (source : Siaran Pers HM.4.6/342/SET.M.EKON.3/10/2024)
Demi mendorong perluasan informasi dan juga pengetahuan mengenai Potensi Limbah Cair Sawit Sebagai Sumber Listrik Alternatif, Media Perkebunan terus berkomitmen mewadahi hal tersebut salah satunya melalui pengadaan acara Konferensi & Pameran Teknologi Pengolahan Sawit Terbesar , 4th Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 Conference & Exhibition dengan tema “Updating Technology & Talent Palm Oil Mill and Downstream” pada tanggal 7 – 10 Juli 2026 di Medan.
Dalam acara tersebut nantinya akan dihadiri Wakil Ketua 1 Asosiasi Biogas Indonesia (ABGI) Sakti Siregar, yang akan memberikan materi mengenai “Pemanfaatan Limbah PKS Untuk Biogas dan Listrik”. Materi yang diberikan nantinya diharapkan akan memberikan pengetahuan lebih dalam memanfaatkan potensi limbah PKS.
Acara yang mengusung tema besar, “Hilirisasi Komoditi Perkebunan Menuju Sawit Pilar Indonesia Emas 2045” akan dihadiri berbagai kalangan baik dari praktisi, akademisi, pelaku usaha, pemerintah dan mahasiswa dalam forum strategis untuk mendorong percepatan transformasi teknologi dan peningkatan kualitas SDM di sektor Pabrik Kelapa Sawit (PKS) serta menjembatani dunia praktik, riset, dan kebijakan guna menciptakan pabrik yang efisien, adaptif dan berkelanjutan sekaligus sebagai ajang pameran Riset dan Teknologi di industri sawit.

