Bogor, mediaperkebunan.id – Kegiatan menggoreng makanan sebenarnya adalah kegiatan yang asyik dan menyenangkan. Apalagi bila makanan yang digoreng bakal disajikan untuk orang-orang yang disayangi. Misalnya, menggoreng makanan untuk konsumsi rumah tangga.
Tetapi tanpa kusadari, menurut pakar kesehatan pernapasan dari IPB University, Dr dr Desdiani SpP MKK MSc (MBioEt), ada bahaya bagi kesehatan manusia yang mengintai dari aktivitas goreng – menggoreng makanan tersebut, termasuk di dalamnya menumis.
Kata Desdiani, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi IPB University, Rabu (16/7/2025), paparan asap minyak goreng, terutama saat proses menumis tanpa alat penghisap asap atau ekstraktor, secara signifikan meningkatkan risiko kanker paru.
Nah, kata Desdiani lebih lanjut, yang paling banyak disasar dari resiko asap gorengan ini adalah pada wanita, baik yang merokok maupun yang tidak.
Dia bilang hal tersebut terungkap berdasarkan hasil meta-analisis terhadap 23 studi ilmiah (2 studi kohort retrospektif dan 21 studi kasus-kontrol).
“Sebuah meta-analisis terbaru dari 23 studi menemukan bahwa asap minyak goreng dikaitkan dengan risiko kanker paru di kalangan wanita tanpa memandang status merokok,” ungkap dosen Fakultas Kedokteran IPB University ini.
Dalam 23 studi tersebut, berbagai jenis minyak goreng juga ditelaah. Hasilnya, peningkatan risiko kanker paru dilaporkan pada penggunaan minyak lobak dibandingkan dengan minyak biji rami, serta minyak lemak babi dibandingkan dengan minyak sayur.
Studi epidemiologis di beberapa negara Asia, seperti Tiongkok, Taiwan, dan Singapura, menunjukkan hasil yang konsisten bahwa paparan asap minyak goreng, terutama tanpa adanya ventilasi atau alat penghisap asap, berkaitan erat dengan meningkatnya risiko kanker paru.
Dr Desdiani juga menguraikan mekanisme kerusakan sel yang ditimbulkan oleh asap tersebut, yaitu melalui salah satu senyawa mutagenik utama dalam asap minyak goreng, trans trans-2,4-decadienal (tt-2,4-DDE).
“Dan hal itu telah terbukti mengurangi tingkat kelangsungan hidup sel eritroleukemia manusia dan menyebabkan kerusakan oksidatif yang signifikan pada DNA kromosom,” jelas Desdiani.
Selain itu, menurutnya, senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) yang terbentuk saat minyak goreng dipanaskan pada suhu tinggi juga diidentifikasi sebagai faktor karsinogenik utama.
Risiko ini, ujarnya lagi, dinilai sangat relevan di kawasan Asia, mengingat banyak perempuan yang masih aktif memasak di rumah tanpa perlindungan memadai terhadap asap.
“Hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) yang berasal dari minyak goreng yang dipanaskan pada suhu tinggi bisa menjadi faktor penyebab Lung Cancer in Never Smokers (LCINS), khususnya di kalangan perempuan Asia,” lanjut Dr Desdiani.
Sebagai langkah pencegahan, Desdiani menekankan pentingnya mitigasi terhadap paparan asap.
“Penggunaan ekstraktor asap saat memasak merupakan langkah kritis,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menganjurkan penggunaan metode memasak alternatif selain menumis guna mengurangi paparan senyawa karsinogenik dari minyak yang dipanaskan.
Untuk mengurangi risiko kanker paru yang tidak disadari banyak orang, Dr Desdiani mengingatkan pentingnya edukasi dan perubahan kebiasaan memasak, khususnya di lingkungan rumahtangga

