Bandung, mediaperkebunan.id – Di balik kelancaran operasional pabrik kelapa sawit, terdapat satu elemen penting yang kerap luput dari sorotan: sistem perpipaan. Padahal, keberadaan infrastruktur pipa yang andal menjadi penopang utama distribusi air bersih, bahan kimia, hingga pengelolaan limbah cair yang berkelanjutan. Dalam acara 3rd TPOMI 2025, Rahardian A. Fauzi dari PT Langgeng Makmur Industri menekankan pentingnya peran pipa berkualitas dalam mendukung efisiensi dan keberlangsungan industri sawit nasional.
“Perpipaan bukan sekadar saluran, tapi bagian dari sistem vital yang mendukung keberlanjutan dan produktivitas pabrik sawit,” ujar Rahardian dalam paparannya.
PT Langgeng Makmur Industri Tbk bukan nama baru di dunia manufaktur. Berdiri sejak 1976, perusahaan ini memulai kiprahnya di sektor peralatan rumah tangga plastik, kemudian merambah ke aluminium dapur, dan sejak 1987 mulai memproduksi pipa serta sambungan berbahan PVC dan HDPE.
Dengan kapasitas produksi mencapai 53.000 ton per tahun, terdiri dari 41.000 ton pipa PVC dan 12.000 ton pipa HDPE, perusahaan ini kini menjadi salah satu produsen pipa terbesar dan paling terintegrasi di Indonesia.
Rahardian menjelaskan bahwa lini produk pipa dari PT Langgeng Makmur telah memenuhi berbagai kebutuhan teknis industri sawit. Mulai dari Pipa PVC SNI dan JIS, Pipa HDPE SNI, hingga pipa multilayer dengan kombinasi warna untuk mempermudah identifikasi jalur distribusi di pabrik. Semua produk tersedia dalam ukuran fleksibel, baik roll untuk aplikasi ringan, maupun batangan untuk proyek berskala besar
“Pabrik kami dilengkapi dengan teknologi mesin ekstrusi dari Austria dan Jerman, serta mesin injeksi dari Jepang. Semua bahan baku kami olah secara otomatis agar mutu selalu terjaga,” katanya.
Produk pipa dan sambungan dari Langgeng Makmur mengantongi sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO, Manajemen Lingkungan, serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Tak kalah penting, komponen lokal pada produk mereka sangat tinggi, hingga 93,7% untuk Pipa Saluran Air PVC dan 50,6% untuk Pipa HDPE.
Ini menjadikannya solusi tepat dalam mendukung kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pemerintah. Industri kelapa sawit menghadapi tantangan berat, mulai dari peningkatan rendemen, pengolahan limbah, hingga efisiensi proses. Salah satu titik kritis adalah sistem distribusi dan pengolahan air serta limbah yang melibatkan bahan kimia. Pipa yang tidak tahan tekanan dan tidak tahan korosi dapat menyebabkan kebocoran, kehilangan hasil, hingga potensi pencemaran lingkungan.
“Karena itu, kami secara khusus mengembangkan pipa dan fitting yang tahan terhadap tekanan tinggi, panas, dan pelarut kimia, sesuai dengan kebutuhan industri kelapa sawit,” ujar Rahardian.
Dalam fasilitas Quality Assurance miliknya, PT Langgeng Makmur melakukan berbagai pengujian seperti:
- Uji Tarik sesuai SNI dan ISO,
- Uji Tekan Internal,
- Uji Stabilitas Panas,
- Uji Ketahanan terhadap Pelarut Kimia (Metilklorida),
- Uji Hidrostatik dan Impak
Selain pipa, Langgeng Makmur juga memproduksi berbagai sambungan (fitting) yang dirancang sesuai kebutuhan lapangan. Misalnya, sambungan berbahan HDPE dengan tekanan kerja berbeda-beda, lengkap dengan bentuk stub end, elbow, tee, hingga double sock. Semua fitting ini tidak hanya dibuat berdasarkan standar SNI dan JIS, tetapi juga dapat dimodifikasi secara custom untuk memenuhi desain teknik pabrik sawit yang kompleks.
Rahardian menambahkan, “Kami juga menyediakan pipa multi layer dengan kode warna berbeda untuk membedakan aliran air bersih, limbah, dan bahan kimia. Ini sangat membantu di lapangan.”
“Produk kami mendukung transformasi industri sawit ke arah yang lebih ramah lingkungan dan efisien,” ujar Rahardian.

