https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Bagikan Berita

Bogor, mediaperkebunan.id – Menurut catatan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan) bahwa, Luas areal perkebunan nasional kita mencapai 27,5 juta hektar dengan areal perkebunan rakyat 17,8 juta hektar atau atau 65 persennya. Artinya dengan mendorong sektor perkebunan sama saja dengan mendorong ekonomi kerakyatan.

Namun demikian perkebunan rakyat masih menghadapi berbagai tantangan antara lain adalah produktivitas komoditas, usaha perkebunan, skala kepemilikan lahan, permodalan usaha, kapasitas sumberdaya pekebun, akses pembiayaan ke bank dan lembaga pembiayaan lainnya, intervensi inovasi teknologi, daya saing produk perkebunan, hilirisasi produk perkebunan rakyat untuk peningkatan nilai tambah dan akses pasar.

“Pekebun rakyat memerlukan dukungan untuk bangkit dalam menghadapi beberapa tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan pembangunan perkebunan, sehingga perlu ada intervensi pemerintah, kerjasama dan sinergi antara kementerian lembaga dan pemangku kepentingan lainya”, ujar Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil.

Lebih lanjut, Ali mengungkapkan, adapun program unggulan Ditjen Perkebunan sebagai intervensi pemerintah terhadap tantangan pembangunan perkebunan meliputi: a) korporasi perkebunan, b) produksi benih/nursery 20 juta dan pengembangan kawasan kopi, kelapa, jambu mete, kakao c) pengembangan sagu hulu hilir berbasis korporasi, d) percepatan swasembada gula konsumsi (tebu dan non tebu) e) pengembangan kopi komandan.

“Sedangkan upaya peningkatan produktivitas pada kopi, kelapa, jambu mete, kakao dan karet yang sampai saat ini masih belum maksimal menjadi kunci dalam peningkatan produksi. Gap atau selisih produktivitas terhadap produktivitas maksimum dari komoditas kopi yaitu 44,15%, Kelapa 68,09%, Jambu Mete 34,75%, Kakao 67,16% dan karet 36,83% memberi peluang dan tantangan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat dalam rangka meraih potensi hasil maksimal. Peningkatan produktivitas ini akan diintegrasikan pengelolaannya dalam korporasi petani komoditi perkebunan,” papar Ali.

Baca Juga  Unit Laboratorium BPMPT Kementan Unjuk Gigi

Ali pun menerangkan, akselerasi penyediaan benih bersertifikat dan produktivitas tinggi juga menjadi program prioritas Direktorat Jenderal Perkebunan pada periode 2020-2024, sejalan dengan arahan Bapak Presiden RI Joko Widodo untuk menyiapkan benih kopi, kelapa, dan jambu mete dengan dibangunnya kebun sumber benih dan nursery melalui program BUN20 dengan menyediakan benih 20 juta batang.

Pengembangan kebun sumber benih dan nursery yang didekatkan dengan kawasan pengembangan komoditas sehingga benih unggul dapat mudah didistribusikan dan lebih efisien dan efektif.

Kekhawatiran pangan dunia dari analisis Food and Agricultural Organization (FAO) perlu dicarikan solusi yang berkelanjutan maka sagu dengan berbagai produk turunannya dapat berkontribusi secara global pada Sustainable Development Goals (SDGs) minimal untuk mengatasi Zero hunger, No poverty, Clean water and sanitation, Affortable and clean energy, Decent work and economic growth.

“Sedangkan terkait percepatan swasembada gula konsumsi, Ditjen Perkebunan juga melakukan berbagai upaya dengan memaksimalkan ekstensifikasi dan intensifikasi tebu serta mengoptimalkan penyediaan gula non tebu seperti stevia, gula kelapa dan gula aren,” jelas Ali.

Ali juga memaparkan, skema anggaran dalam pembangunan perkebunan rakyat mulai diarahkan tidak hanya bergantung dengan APBN, tetapi diarahkan pada pemanfaatan KUR, CSR dan sumber pembiayaan lainnya. Skema melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga menjadi perhatian pemerintah. Serapan nilai KUR pada sektor pertanian sampai dengan minggu pertama bulan Desember 2021 yaitu sebesar 82,88 triliun, untuk perkebunan telah terserap sebesar 28,84 triliun atau 35 persennya dari total KUR pertanian serta realisasi KUR 2021 mencapai realiasi 142,21% terhadap target.

“Oleh karena itu, kami meminta kepada segenap jajaran pertanian dan stakeholders terkait agar bekerja bersama-sama memastikan pelaksanaan kegiatan hingga tercapainya tujuan pengembangan pembangunan perkebunan,” pungkas Ali.

(Visited 74 times, 1 visits today)