Serang, medisperkebunan.id – Provinsi Banten meraup cuan hingga ratusan juta Dollar AS dari ekspor komoditas perkebunan kakao hanya dalam waktu setengah tahun saja atau sepanjang Semester I 2025.
Kata Ketua Tim Statistik Distribusi dan Harga pada Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, Bambang Wijdonarko, mengatakan periodesasi ekspor kakao yang membuat Banten “menang banyak” adalah sepanjang Januari hingga Mei 2025.
“Nilai ekspor kakao meningkat hampir 370 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya atau year on year (yoy),” kata Bambang Widjonarko seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi RRI, Kamis (17/7/2025).
Bambang Wijdonarko mengungkapkan, nilai ekspor kakao dari Provinsi Banten pada periode tersebut naik sangat tajam dari USD 105 juta menjadi hampir USD 500 juta.
“Kenaikan tajam ini menjadi sorotan, mengingat sebelumnya kontribusi ekspor kakao Provinsi Banten relatif kecil,” tutur Bambang Widjonarko lebih lanjut.
Menurut Bambang, kenaikan harga kakao di tingkat petani turut memicu terjadinya peningkatan ekspor. Harga kakao yang sebelumnya di bawah Rp 100 ribu per kilogram (Kg) kini melonjak menjadi sekitar Rp 135 ribu per Kg.
Lonjakan harga global akibat gangguan produksi di negara produsen lain membuka peluang besar bagi Banten.
“Ini berkah bagi Banten karena produksi kakao kita sedang bagus, sementara negara lain mengalami gangguan. Kita bisa mengisi kekosongan pasokan dunia,” ujar Bambang Widjonarko.
Namun, Bambang mengingatkan kenaikan ekspor kakao masih bersifat mengompensasi penurunan ekspor komoditas alas kaki yang turun hampir 50 persen.
Dengan demikian, kata dia lagi, maka secara total, pertumbuhan ekspor Banten hanya naik sekitar 3,8 persen.
BPS Banten berharap pemerintah daerah (Pemda);dapat memanfaatkan momentum lonjakan ekspor komoditas kakao ini.
“Khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan petani lokal sekaligus memperkuat posisi Banten di pasar ekspor global,” tegas Bambang Widjonarko.

