Jakarta, mediaperkebunan.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan siap menggelar event bernama “Aromatika Indofest 2025” yang bakal dilaksanakan di kota Jakarta dalam waktu beberapa hari ke depan.
Kesiapan itu, seperti dikutip mediaperkebunan.id dari laman resmi Kementerian Perindustrian, Sabtu (24/5/2025), dinyatakan langsung oleh Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, dalam kegiatan Pre-event Aromatika Indofest 2025 di Jakarta, Jumat (23/5/2025).
Tahun ini, ucap Wamenperin, Kemenperin hadir dalam program inisiatif strategis yang mampu mengintegrasikan promosi, edukasi, kolaborasi, dan inovasi.
“Dan semuanya itu akan dijadikan dalam satu rangkaian kegiatan terpadu melalui penyelenggaraan Aromatika Indofest 2025,” ucap Wamenperin.
Kegiatan Aromatika Indofest 2025, harapnya, dapat menjadi wadah untuk melahirkan gagasan yang baru, lalu terciptanya penguatan ekosistem minyak atsiri, perluasan akses dan pangsa pasar minyak atsiri.
“Serta menumbuhkan apresiasi terhadap karya, inovasi, dan kontribusi dalam bidang minyak atsiri,” kata Faisol Riza.
“Melalui kesempatan ini, saya mengajak seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, pelaku usaha, penggiat aromatika, komunitas, serta seluruh media di Indonesia,” ujar Faisol Riza.
“Terutama untuk bersama-sama meningkatkan awareness atau kepedulian, partisipasi, dan kemitraan strategis dalam menyukseskan Aromatika Indofest 2025,” tutur Wamen Riza.
Wamenperin berharap kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan Aromatika Indofest 2025, untuk bersama-sama sukseskan kegiatan tersebut.
“Semoga program ini dapat menjadi momentum penting dalam memperkenalkan dan memajukan produk unggulan dari industri minyak atsiri ke pasar dunia,” kata Wamenperin.
Wamenperin mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak atsiri terbesar di dunia dan memiliki kekayaan biodiversitas flora atsiri yang mencapai hingga 97 jenis tanaman.
“Minyak atsiri menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia yang memiliki nilai strategis, baik dari sisi ekonomi maupun sebagai bahan dasar pengembangan industri berbasis sumber daya alam,” ucap Wamenperin.
Saat ini, ucap politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut, Indonesia menempati posisi sebagai eksportir minyak atsiri terbesar ke-8 di dunia, dengan nilai ekspor mencapai USD 259,54 juta pada tahun 2024.
“Tujuan utama ekspor minyak Atsiri Indonesia selama periode tahun 2019 – 2024 yaitu negara India, Amerika Serikat (AS), Tiongkok, Singapura, dan Perancis,” beber mantan aktivis antirezim Orde Baru (Orba) tersebut.
Berangkat dari potensi tersebut, Faisol Riza mengatakan, Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan industri minyak atsiri.
Salah satu hal krusial yng telah dilakukan. Kemenperin, kata dia lagi, adalah dengan melakukan pembentukan Pusat Flavor and Fragrance (PFF) di dua provinsi yang berbeda, yaitu di Provinsi Bali dan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).
“Pendirian PFF ini sebagai upaya mendorong pengembangan industri hilir,” tutur Wamenperin lebih lanjut.
Namun demikian, kata dia, beberapa tantangan yang dihadapi industri minyak atsiri di dalam negeri, antara lain keterbatasan ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan.
“Lalu, terbatasnya akses ke pasar global, kurangnya diversifikasi produk hilir, serta keterbatasan teknologi produksi dan pengolahan,” ucap Faisol Riza.
“Untuk itu, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku industri, dunia pendidikan, dan masyarakat, guna membangun industri atsiri yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing global,” ungkap Wamenperin.
Sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan tersebut, Wamenperin bilang, pemerintah mendorong implementasi kebijakan yang mencakup peningkatan jaminan ketersediaan bahan baku.
Kemudian, ujarnya, mencakup juga peningkatan kemampuan produksi dan mutu minyak atsiri nasional, serta penguatan posisi dagang minyak atsiri nasional di pasar domestik dan global.
“Kebijakan lainnya, yakni penguatan pasar dan investasi dengan menciptakan ekosistem usaha yang kondusif dan inklusif, serta penguatan diversifikasi produk hilir minyak atsiri,” ujarnya.
“Caranya adalah melalui inovasi dan pengembangan nilai tambah, guna mendorong munculnya produk-produk kreatif dan berdaya saing tinggi yang berbasis kekayaan hayati Indonesia,” tegas Wamenperin Faisol Riza.

