Bogor, mediaperkebunan.id – Total luas kebun kakao di Indonesia 1.386.749 ha dengan kepemilikan 99,63% kebun kakao rakyat, 0,35% perkebunan swasta dan 0,01% PTPN. Dari sisi umur tanaman TBM 210.972 ha (15,21%); TM 890.657 ha (64,22%); TTR 285.120 ha (20,56%). Produksi kakao Indonesia meningkat jadi 632.702 ton sedang produktivitas 828 kg/ha/tahun. Diany Faila, Peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia menyatakan hal ini.
Dari tahun 2006-2025 total luas areal kebun penanaman dan produksi kakao Indonesia cenderung menurun. Hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu iklim, serangan HPT, harga yang rendah pada 20 tahun terakhir; konversi ke sawit yang banyak terjadi di Sulawesi.
Penanaman kakao di Kalimantan semakin meningkat. Hasil survey di beberapa sentra produksi tahun 2025 menunjukkan meningkatnya harga kakao mendorong petani meremajakan, intensiikasi, dan rehabiltasi secara swadaya. Beberapa tahun mendatang diperkirakan terjadi peningkatan produksi, ditambah program hilirisasi kakao yang akan meningkatkan produksi.
Tahun 2020 luas lahan perkebunan rakyat 1.492.588 ha, produksi 716.601 ton, produktivitas 728 kg/tahun. Tahun 2025 luas menjadi1.362.212 ha, produksi 629.313 ton, produktivitas 723 kg/ha. Perkebunan swasta tahun 2020 11.558 ha, produksi 3.084 ton , produktivitas 371 kg/ha. Tahun 2025 luas 7.081 ha, produksi 1.245 ton produktivitas 192 kg/ha. PTPN tahun 2020 luas 4.809 ha, produks 976 ton, produktivitas 228 kg/ha. Tahun 2025 luas lahan PTPN 239 ha, produksi 40 ton, prdoduktvitas 192 kg/ha.
Dari tahun 2020-2025 laju penurunan luas areal perkebunan kakao rakyat adalah 1,85%/tahun; swasta 15,3%/tahun, PTPN 156%/tahun. Laju penurunan produksi perkebunan rakyat 2,65%/tahun, swasta 30,63%/tahun, PTPN 152,44%/tahun. Laju penurunan produktivitas perkebunan rakyat 0,15%/tahun, swasta 17,91%/tahun, PTPN 12,71%/tahun.
Tahun 2023 total grinding kakao Indonesia 380.000 ton, dari biji kakao Indonsia 180.000 ton sedang impor 200.000 ton. Kapasitas terpasang 700.000 ton, maka ada gap stok biji kakao 320.000 ton. Industri pengolahan kakao di Indonesia adalah Barry Calebout, Olam Food Ingredient, Cargill, Guanchong, JB Cocoa dan lain-lain. Sedang industri olahan cokelat adalah Mondelez, Mars, Nestle, Varlhona. Industri bean to bar adalah Monggo, Pispitin, Mason, Jungle Cocoa, CocoPod.
Nilai ekspor kakao Indonesia tahun 2024 lebih tinggi 55% dibanding tahun 2023. Produk yang dominan adalah lemak kakao (64,95%), kakao bubuk 17,56%, kakao pasta 7,46%. Peningkatan ekspor terutama pada produk biji kakao fermentasi, pasta kakao, kakao bubuk, final product (cokelat). Negara tujuan utama India 17,99%, USA 15,72%), Malaysia 9,8%, Tiongkok 8,33%, Estonia 7,96%, Belanda 6,36%.
Impor kakao Indonesia didominasi biji kakao yaitu 157.000 ton (75,2%), kemudian pasta kakao 5,1%, lemak kakao 1%, kakao bubuk 9,7%, cokelat 3,7%. Impor Indonesia 18,31% dari Ekuador, 16,52% dari Malaysia; 7,83% dari Pantai Gading; 6,85% dari PNG, 6,79% dari Nigeria, 6,5% dari Peru sisanya dari negara-negara lain.
Pasar cokelat, snack, dan konsumsi kakao Indonesia tahun 2024 USD11,38 miliar; tahun 2025 diperkirakan USD12,3 miliar dan tahun 2030 diperkirakan USD18,27 miliar. Pasar cokelat dan snack cenderung meningkat. Laju pertumbuhannya 2018-2030 7,43%/tahun. Pendapatan pasar cokelat tahun 2024 USD860 juta. Tahun 2024 dengan konsumsi perkapita 200 gr/tahun dan jumlah penduduk 218,6 juta maka konsumsi 56.320 ton sedang tahun 2025 diperkirakan 57.340 ton.

