Yogyakarta, mediaperkebunan.id – PT LPP Agro Nusantara sukses menyelenggarakan Workshop Kristalisasi Rencana Desain Intervensi Komoditas Kakao dan Padi Kabupaten Luwu di Yogyakarta. Menjadi bagian dari program FOLUR (Food Systems, Land Use and Restoration), workshop dilaksanakan untuk memaparkan sekaligus mendiskusikan hasil pengerjaan di wilayah Luwu, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini menjadi salah satu dari rangkaian dalam FOLUR yang merupakan program strategis untuk menyusun perencanaan program pengembangan pertanian yang terarah, terukur, dan berkelanjutan untuk berbagai komoditas strategis.
Berlangsung secara intensif, workshop diadakan di Ruang Visionary Lantai 2 Gedung Kampus PT LPP Agro Nusantara dari pukul 09.30 hingga 18.00 WIB. Kegiatan dihadiri oleh para pemangku kepentingan kunci, termasuk Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, perwakilan FAO Indonesia, Project Management Unit (PMU) FOLUR Indonesia, serta unsur pemerintah daerah dan mitra strategis lainnya.
Dalam sambutannya, Pranoto Hadi Raharjo Direktur PT LPP Agro Nusantara, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan. “Kami ucapkan terima kasih banyak atas kepercayaan kepada PT LPP Agro Nusantara untuk turut berpartisipasi pada proyek Kakao dan Padi di Luwu. Kami berharap hasil dari kegiatan hari ini dapat menjadi akselerator dalam pengembangan pertanian Indonesia yang lebih maju,” ungkapnya.
Pranoto menambahkan bahwa workshop ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang kolaborasi untuk mengkristalisasi strategi intervensi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi kesejahteraan petani. “LPP Agro Nusantara berkomitmen penuh untuk mendampingi setiap tahapan implementasi program ini hingga memberikan hasil nyata di lapangan,” tegasnya.

Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian RI memberikan arahan strategis mengenai pentingnya pendampingan berkelanjutan dalam mencapai target peningkatan produksi nasional. “Kegiatan pendampingan harus dilakukan secara konsisten. Jika kita tidak berhasil melakukannya, maka target peningkatan produksi akan sulit dicapai, termasuk aspek sustainabilitasnya yang harus dibarengi dengan pemahaman ekologi lingkungan,” ujar Sekretaris Ditjenbun, Heru Tri Widarto.
Heru juga mengapresiasi inisiatif yang diambil dalam workshop ini dan menekankan pentingnya pengelolaan yang lebih baik, terutama dalam aspek finansial. “Ini adalah inisiatif yang bagus. Kedepannya, kita bisa melibatkan daerah-daerah potensial lainnya deng mengutamakan enam komoditas unggulan nasional yang belum mendapat pendampingan intensif,” tambahnya.
Rangkaian agenda workshop mencakup paparan komprehensif dari tim konsultan LPP Agro Nusantara yang memaparkan hasil kajian mendalam terhadap kondisi eksisting komoditas kakao dan padi di Kabupaten Luwu. Dilanjutkan dengan arahan strategis dari PMU-FAO yang memberikan perspektif global mengenai praktik terbaik dalam sistem pangan berkelanjutan.
Sesi diskusi dan tanggapan dari seluruh pemangku kepentingan menjadi momentum penting dalam mengkristalisasi rencana aksi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga dapat diimplementasikan secara realistis. Diskusi interaktif menghasilkan kesepakatan bersama mengenai prioritas intervensi, pembagian peran, hingga mekanisme monitoring dan evaluasi program.
Sebagai lembaga pengembangan organisasi yang berpengalaman dalam bidang agroindustri, LPP Agro Nusantara berkomitmen untuk terus mendampingi dan mendukung transformasi sektor pertanian Indonesia menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Salah satunya mendukung kesuksesan transformasi pangan melalui program FOLUR.

