Jakarta, mediaperkebunan.id – Kolaborasi dan kerjasama intensif antara SMART Research Institute (SMARTRI), lembaga riset unggulan Sinar Mas Agribusiness and Food, dengan Centre de Coopération Internationale en Recherche Agronomique pour le Développement (CIRAD) yang berasal dari Perancis, telah berlangsung lebih dari 25 tahun atau seperempat abad.
Perjalanan panjang tersebut, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi Sinar Mas, Senin (2/6/2025), mampu membuat kedua belah pihak untuk kembali menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk mempercepat inovasi dalam bidang minyak kelapa sawit berkelanjutan.
Sebagai informasi saja, Sinar Mas Agribusiness and Food (SMAF) merupakan produsen minyak kelapa sawit yang terintegrasi, memiliki perkebunan kelapa sawit di berbagai daerah, berikut berbagai pabrik pengolahannya.
Penandatanganan MoU antara Sinar Mas dan CIRAD digelar di Jakarta, belum lama ini, disaksikan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Ekonomi, Keuangan, Kedaulatan Industri dan Digital Prancis, Eric Lombard.
Penandatanganan MoU tersebut dilakukan masih serangkai dengan acara Indonesia–France Business Forum 2025 yang berlangsung di sela kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Indonesia.
Dalam MoU itu, kedua pihak menyepakati untuk memperpanjang kemitraan mereka, dengan memasuki fase baru yang akan menjawab tantangan-tantangan utama dalam industri kelapa sawit.
Hubungan kerja sama antara SMAF dan CIRAD dimulai pada tahun 1996 dan telah diperkuat melalui berbagai perjanjian lanjutan yang mencakup topik-topik seperti produksi minyak sawit berkelanjutan, pengelolaan lingkungan, dan pertanian presisi.
Sejak awal kolaborasi, hampir Rp 550 miliar atau lebih setengah triliun rupiah telah diinvestasikan secara bersama dalam berbagai kegiatan riset dan pengembangan atau research and development (R&D).
Bersama lembaga Dana Dunia untuk Alam atau World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, SMAF dan CIRAD juga menjadi pendiri International Conference on Oil Palm and the Environment (ICOPE).
Dalam konferensi terkini yang diselenggarakan pada Februari 2025, berbagai peneliti terkemuka dunia dan akademisi muda mempresentasikan penelitian terkini mengenai ketahanan iklim serta pelestarian alam dan keanekaragaman hayati dalam industri sawit.
Kemitraan ini juga berkontribusi pada berbagai inisiatif riset internasional, seperti proyek Sustainable Palm Oil Production (SPOP) yang didanai oleh French National Research Agency (ANR), dan International Oil Palm Genome Projects (OPGP) Consortium.
Fokus MoU
Melalui MoU ini, kedua pihak kembali menegaskan komitmen bersama untuk mengembangkan solusi praktis berbasis sains dalam mendorong praktik kelapa sawit berkelanjutan.
Adapun yang menjadi fokus utama mencakup peningkatan pengetahuan ilmiah, adaptasi terhadap perubahan iklim, serta peningkatan produktivitas sektor sawit.
Kolaborasi yang diperbarui ini akan mencakup investasi bersama dalam kegiatan riset dan pengembangan, termasuk pemodelan fungsi tanaman dan simulasi dampak perubahan iklim.
Adapun tujuan utamanya adalah untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit di tengah risiko iklim yang terus meningkat.
“Kemitraan kami dengan CIRAD menyatukan keahlian ilmiah global dan riset lapangan yang relevan dengan kondisi sawit di Indonesia,” kata The Biao Leng, Direktur Utama Sinar Mas Agribusiness and Food.
Kata dia, hal ini memungkinkan pihaknya untuk mengembangkan solusi inovatif yang praktis dan kemudian dapat diterapkan secara luas.
“Tidak hanya untuk perkebunan kkelapa sawit milik ami, tetapi juga untuk para petani mandiri di seluruh Indonesia,” kata The Biao Leng lebih lanjut.
Kemitraan ini juga mendukung ketahanan dan kemandirian pangan nasional Indonesia, sekaligus mengurangi emisi karbon, melalui pengembangan pendekatan agroforestri baru di sektor sawit.
Sementara itu, Jean-Marc Roda, selaku CIRAD Regional Director for Southeast Asia Island Countries, menyatakan bahwa kolaborasi kedua belah pihak menunjukkan bagaimana kemitraan internasional dapat menggabungkan ketelitian ilmiah dengan hasil nyata di lapangan.
“Ini memungkinkan kami menjawab tantangan-tantangan utama keberlanjutan, seperti ketahanan iklim, efisiensi tata guna lahan, dan inklusi petani kecil,” ucap Jean-Marc Roda.
“Dan ini juga merupakan pendekatan terintegrasi yang sesungguhnya dalam mentransformasi sub sektor perkebunan kelapa sawit,” tegas Jean-Marc Roda, CIRAD Regional Director for Southeast Asia Island Countries.

