Medan, mediaperkebunan.id – Sebanyak 56 pekebun swadaya dan pendamping dari Kabupaten Batubara dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara, mengikuti Pelatihan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang diselenggarakan pada 14–20 Juli 2025 di Hotel AIHO, Medan dalam rangka Program SDM PKS 2025, pelatihan Pelatihan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) 2025 yang diselenggarakan oleh BPDP bersama dengan Direktorat Jendral Perkebunan. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas pekebun swadaya dalam menerapkan prinsip dan standar keberlanjutan dalam pengelolaan kebun kelapa sawit, sekaligus mendukung upaya peningkatan daya saing produk sawit nasional.
Pelatihan tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara, M. Zakir Syarif Daulay, S.Hut., MM. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas pekebun sebagai langkah strategis menuju kesejahteraan petani yang berkelanjutan.
“Pekebun kelapa sawit harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar dapat menjaga kualitas dan kuantitas produksi. Pelatihan ini diharapkan menjadi katalisator bagi peningkatan produktivitas serta penerapan praktik budidaya yang berkelanjutan,” ujar Zakir.
Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, bersama dengan Pemerintah Kabupaten Batubara dan Labuhanbatu Selatan, berkomitmen penuh mendukung program peningkatan kapasitas pekebun. Dukungan ini juga termasuk dalam mendorong kemitraan yang strategis dengan pabrik kelapa sawit (PKS) guna memberikan nilai tambah langsung kepada petani.
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Ir. Susilistiawati Ritonga, M.Si., selaku Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Batubara. Ia menekankan bahwa pelatihan ISPO merupakan bagian dari upaya nasional untuk membangun industri sawit yang bertanggung jawab dari sisi lingkungan, sosial, dan tata kelola.
“Sertifikasi ISPO bukan sekadar label, tetapi representasi komitmen kolektif untuk menjaga keberlanjutan. Dengan pelatihan ini, kami berharap para pekebun tidak hanya memahami pentingnya sertifikasi, tetapi juga mampu melaksanakan praktik budidaya yang ramah lingkungan dan sesuai regulasi,” jelas Susilistiawati.
Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Ibu Shabrina Pulungan, S.P. Ia menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan wadah penting untuk memperkuat jejaring antarkelompok pekebun, memperluas kolaborasi, serta membangun sinergi guna mendukung implementasi ISPO di tingkat tapak.
Sementara itu, Direktur PT Koompasia Enviro Institute selaku pelaksana kegiatan, Henry Marpaung, SP., M.Si., menyampaikan bahwa pendekatan pelatihan yang digunakan bersifat partisipatif dan aplikatif. Para peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga aktif dalam diskusi, simulasi, hingga latihan lapangan.
“Pelatihan ini dirancang untuk mendorong peserta berpikir kritis dan berperan aktif. Kami ingin ilmu yang diberikan benar-benar aplikatif dan dapat langsung diterapkan di kebun masing-masing,” terang Henry.
Sejak hari pertama, antusiasme peserta sangat terasa. Diskusi berlangsung hidup, para peserta aktif bertanya, dan setiap sesi menjadi ruang kolaborasi yang intens antara petani dan narasumber.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, pada 18 Juli 2025 para peserta melaksanakan kunjungan lapangan ke Perkumpulan Pekebun Kelapa Sawit Berkelanjutan Bintang Simalungun yang berada di Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun. Di sana, peserta mempelajari secara langsung sejumlah praktik teknis penerapan ISPO seperti pengelolaan dokumen sertifikasi, penanganan limbah B3, perlindungan sempadan sungai, hingga penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
Kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi antara pemerintah, lembaga pelatihan, dan masyarakat pekebun untuk mewujudkan sistem perkebunan kelapa sawit yang lebih berdaya saing, ramah lingkungan, dan inklusif. Dengan pendekatan pelatihan yang komprehensif serta berorientasi praktik, diharapkan para pekebun swadaya dapat berperan sebagai agen utama dalam mendorong transformasi sektor kelapa sawit menuju keberlanjutan jangka panjang.

