Padang, mediaperkebunan.id – Puluhan petani sawit asal Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) dan Kabupaten Dharmasraya diajak oleh Best Planter Indonesia (BPI) untuk melakukan kunjungan lapangan ke perkebunan milik PT Mutiara Agam di Kabupaten Agam, kemarin
Kunjungan ke anak usaha Damai Group itu dilakukan BPI sebagai bagian dari pelaksanaan program pengembangan sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit (PKS) 2025 yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Perkebunan sawit milik PT Mutiara Agam dipilih karena diketahui mampu menghasilkan tandan buah segar (TBS) dalam jumlah yang signifikan, yaitu 40 ton per hektar (Ha) per tahun.
Kunjungan lapangan itu sendiri, seperti keterangan resminyang diterima Mediaperkebunan.id, Kamis (18/9/2025), termasuk dalam pelatihan teknis budidaya kelapa sawit yang diselenggarakan BPI di Hotel Axana, Padang (9–13/9/2025).
Dengan melakukan kunjungan lapangan, BPI mengharapkan produksi pekebun sawit bisa mencapai minimal 25 ton/Ha/tahun dengan standar produksi 30 ton/Ha/tahun.
Sebagai pembanding dalam pengelolaan kebun sawit, peserta pelatihan diajak ke PT Mutiara Agam untuk melihat langsung kondisi kebun sawitnya dan berinteraksi langsung dengan para planter yang mengelola kebun tersebut.
Tujuannya adalah agar terjadi transfer ilmu dan pengetahuan secara langsung ke para pekebun sawit yang mengikuti pelatihan yang digelar oleh BPI dan didukung BPDP tersebut.
Peserta pelatihan diajak melihat kondisi lahan perkebunan di areal rendahan yang di-replanting atau diremajakan dengan. menggunakan sistem tumbang chipping.
Ada 6 tahapan yang dilakukan saat replanting, yaitu, pertama, tumbang dan mencacah batang sawit setebal 10 cm; kedua, menggali akar dari bekas sawit seukuran 1.5 mx 1.5 m, dibiarkan terpapar matahari 30 hari.
Ketiga, menutup lubang dengan tanah mineral dari luar Lokasi; keempat, menumpuk bekas chippingan dengan jarak 15.6 m antartumpukan; kelima, pengaturan manajemen air atau water management dengan pembuatan parit. Dan terakhir, keenam, pancang tanam untuk SPH 148 pokok/Ha dengan jarak tanam 8.83m x 7.64 meter.
Pada saat pembuatan parit, tanah bekas galian digunakan untuk meratakan titik tanam. Perlakuan awal lahan sebelum ditanam menjadi kunci pencapaian produksi dikemudian hari. Titik kunjungan lapang kedua adalah areal tanam, dimana lokasi penanaman adalah areal terserang ganoderma.
Ada 4 perlakuan yang diberikan dititik tanam, yaitu, pertama, menanam bibit jenis moderat toleran (MT) ganoderma; kedua, aplikasi trichoderma di lubang tanam; ketiga, aplikasi mikoriza lubang tanam; keempat, penambahan kompos di lubang tanam.
Dengan perlakuan ekstra dilubang tana mini, serangan Ganoderma sangat minim sampai tahun ke-7 setelah tanam. Titik kunjungan berikutnya adalah areal tanaman belum menghasilkan (TBM) umur 26 bulan, dan sudah banyak yang masuk kategori buah pasir.
Kunci untuk perawatan pada fase TBM ada 7 hal, yaitu: 1) menjaga kelembaban tanah dengan hijauan penutup tanah; 2) aplikasi pupuk sesuai kebutuhan tanaman; 3) mencukupi SPH minimal 140 pokok/ha.
Keempat, memperbaiki kesuburan dan kesehatan tanah; 5) menanam bibit MT Gano; 6) pengendalian gulma dan penutup tanah; 7) pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Pada titik kunjungan terakhir areal TM (Tanaman Menghasilkan) terlihat hampir disetiap pangkal pelepah ada buahnya atau bunga betina bakal buah. Dalam setahun bisa dihasilkan 22 janjang x BJR 12.5 kg/janjang x SPH 148 pokok/ha = 40.7 ton/ha/tahun.
Dengan penerapan tata kelola kebun terbaik (best management practices), maka pencapaian produksi 40 ton/ha/tahun sangat mungkin bisa dicapai.

