Pangkalan Bun, mediaperkebunan.id – Industri sawit menyerap tenaga kerja dan menggerakan ekonomi desa, tetapi tengah mengalami sejumlah tantangan mulai dari tekanan global, dinamika nasional, dan produktivitas yang belum optimal.
Kalimantan Tengah (Kalteng) sendiri memiliki wilayah perkebunan sawit terbesar kedua di Indonesia dengan total luas menurut BPS mencapai 2.164,25 ribu hektar per Februari 2026. Untuk meningkatkan produksi, pemerintah diketahui berencana akan akan memperluas 2-5 juta ha lahan sawit dan intensifikasi. Namun, muncul pertanyaan di Indonesia yang merupakan negara terluas perkebunan sawit apakah masih diperlukan ekstensifikasi?
Menjawab pertanyaan tersebut, Laden Mering dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dalam paparannya pada Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 menjawab bawa masa depan sawit bukan ditentukan oleh ekspansi lahan.
“Masa depan sawit Kalimantan Tengah bukan lagi tentang seberapa luas kita berekspansi, melainkan seberapa cerdas kita berinovasi. Grow Better, Not Bigger,” ujar Laden Mering pada hari Rabu (29/04/2026).
Menurutnya, tak hanya GAPKI dan para petani semua kepentingan harus bertemu di satu titik strategis mulai dari Pemerintah Daerah, tokoh masyarakat, dan juga media. Kemudian, diperlukan high impact diagnostic comparison matrix.
“Daripada ekstensifikasi, intensifikasi merupakan solusi cerdas karena risiko hukum dan regulasi lebih minimal dan aman, potensi konflik sosial lebih positif dan membangun kemitraan, tekanan internasional mengenai ESG aman dan memenuhi compliance, dan struktur biaya sangat efisien dan ROI cepat.” jelasnya.
Diketahui, potensi raksasa masih tersembunyi di dalam lahan yang persis sama tanpa perlu membuka lahan baru. “Produksi rata-rata saat ini masih sekitar 50% di bawah potensi produksi maksimal, kendalanya ada di pemupukan yang belum presisi, tingkat fruit set yang rendah, dan tingginya losses TBS saat panen. Potensi raksasa masih tersembunyi di dalam lahan yang persis sama tanpa perlu membuka lahan baru,” tambah Laden.
Menambahkan, dengan intensifikasi output menjadi lebih optimal jika juga mengoptimalkan dari sisi agronomi (penggunaan bibit unggul, pemupukan presisi, dan tata kelola air), sumber daya dengan pelatihan berkelanjutan dan penerapan Green Human Resource Management (GHRM), teknologi dengan digitalisasi operasional kebun, dan perbaikan sistem panen dan minimalisasi losses pengangkutan.
“Dengan menerapkan replanting berbasis produktivitas tinggi, pemupukan berbasis data, perbaikan panen dan transport serta digitalisasi kebun, terbukti nyata bisa terjadi efisiensi BBM 30% – 50% dan menghemat biaya penggunaan solar pump sebanyak 100%,” ungkapnya.
Pada akhir pemaparannya, Laden menegaskan kembali bahwa intensifikasi adalah jalan utama dan satu-satunya untuk masa depan sawit sedangkan ekstensifikasi adalah opsi udang dengan risiko terlalu tinggi, Kemudian, pemberdayaan menjadi kunci utama pengunci keberlanjutan industri.
“Kita tidak lagi berlomba membuka hutan, tetapi berlomba menciptakan nilai. Dari setiap hektar yang kita kelola dan dari setiap masyarakat yang kita sejahterakan,” pungkasnya.

