2022, 10 Februari
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan.id

“PTPN III Holding saat ini masuk ke bisnis hilir kelapa sawit yaitu minyak goreng sebagai wujud ikut berkontribusi pada ketahanan pangan nasional, selain juga karena harga di hilir relatif lebih stabil daripada di hulu yang sangat fluktuatif”, Dwi Sutoro, Direktur Pemasaran PTPN III Holding menyatakan hal ini pada Media Perkebunan.

Dalam kondisi terkini minyak goreng di pasar dimana terjadi gejolak karena supply dan demand terganggu, maka PTPN bisa masuk, bukan untuk menghilangkan dampaknya karena ada perusahaan swasta lain yang lebih besar, tetapi minimal bisa mengurangi dampaknya.

Saat ini dengan langkanya minyak goreng permintaan distributor selalu 2 kali lipat dari kemampuan pasokan. Penjualan online lewat berbagai e-commerce populer juga sudah beberapa bulan ini langsung habis. Operasi pasar secara adhoc sudah dilakukan di Medan, Malang, Cianjur, Lampung dan Bekasi.

“Kita memasok pasar sesuai dengan kapasitas kita, mengikuti peraturan pemerintah soal DMO (domestic mandatory obligation) dan DPO (domestic price obligation) atas minyak goreng dan langsung habis. Saat ini porsi produksi kemasan PTPN hanya 1% dari total produk kemasan nasional. Jadi kalau hanya kita yang mengguyur pasar tetapi perusahaan lain tidak maka minyak kita langsung habis terus.” Katanya.

Khusus untuk pasar di Sumatera Utara, PTPN berencana mengerahkan PTPN II, III dan IV untuk melakukan operasi pasar minyak curah dengan harga Rp11.500/kg ke pasar-pasar tradisional. Dari pabrik di Sei Mangke dibawa pakai truk tangki terus parkir di pasar tradisional.

Kapasitas terpasang di pabrik Sei Mangkei, menghasilkan minyak goreng dengan 90% dijual dalam bentuk curah – 80% diantaranya diekspor dan 20% ke dalam negeri – sedangkan 10% lainnya dijual dalam kemasan, dan akan ditingkatkan lagi sehingga tahun ini menjadi proporsi 25% berupa kemasan. Bahkan pada tahun 2024 direncanakan mencapai 50%, yang artinya sudah dalam jumlah yang lumayan besar.

“Tetapi memang jika dibandingkan dengan total produksi minyak kemasan nasional hanya sekitar 6% saja. PTPN masih kecil sebab di luar sana sudah banyak perusahaan swasta dengan kapasitas yang besar. Meskipun kecil, kalau tidak kita mulai kapan lagi industri hilir ini akan dikembangkan?” kata Dwi lagi.

Kapasitas pengemasan minyak goreng juga akan ditingkatkan 3 kali lipat di tahun ini. Bulan April tahun ini akan datang mesin kemasan baru dengan kapasitas yang sama dengan kapasitas sekarang, kemudian Oktober datang juga mesin yang sama. Jadi akhir tahun kapasitas kemasan sudah mencapai 3 kali lipat dan akan terus ditingkatkan di tahun-tahun mendatang.

“Untuk kemasan kita saat ini baru punya dua line kemasan. Masih menunggu dua mesin lagi yang masuk bulan April dan Oktober. Membeli mesin kemasan perlu waktu 5-6 bulan sampai dipabrik,” kata Dwi.