Jakarta, Mediaperkebunan.id-Armin Hari dari Cocoa Sustainability Patnership menyatakan penyebab penurunan produksi kakao di Indonesia selama ini adalah tidak adanya pupuk khusus untuk kakao. Petani kakao memupuk tanamannya menggunakan pupuk subsidi untuk tanaman pangan. Hal ini menyebabkan keasaman tanah semakin tinggi sehingga produktivitas kakao dalam 30 tahun terakhir semakin menurun.
Temuan CSP inii sudah disampaikan pada pemerintah dan direspon dengan baik. Petani kakao merupakan satu-satunya komoditas perkebunan yang mendapat subsidi. Tahun ini subsidi pupuk kakao mencapai 140.000 ton.
Faktor lain adalah ketersediaan bahan tanam unggul. Untuk bahan bawah yang berasal dari biji kebun induk hanya ada 2 yaitu Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember dan Scorpio Padang, sedang Sulawesi sebagai sentra kakao belum ada.
Karena itu CSP bekerjasama dengan Pusat Riset Perkebunan-Badan Riset dan Inovasi Nasional dan dukungan swasta sudah dilepas klon RHS untuk batang bawah. Akan dibangun kebun induk di Sigi dan beberapa daerah lain di Sulawesi dan Sumatera.
Kakao harus ditangani segera untuk keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan petani, sebab 98% produksi kakao berasal dari perkebunan rakyat di pedesaan; upaya pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan bagi 15,51 juta penduduk miskin di pedesaan (56.3%); jaminan pendapatan 1,7 juta petani dengan kepemilikan lahan rata-rata 1-2 ha.
Juga untuk keberlanjutan industri kakao di Indonesia yaitu jaminan bahan baku lokal untuk kebutuhan industri; agribisnis kakao memiliki kandungan lokal lebih dari 90% sehingga efek penggandanya sangat besar untuk ekonomi lokal; neraca perdagangan positif dan devisa negara.
Data BPS tahun 2022 luas kakao 1.421.012 ha dengan produksi 650.614 ton terdiri dari Sulawesi 852.939 ha produksi 399.532 ton; Sumatera 313.573 ha produksi 164.890 ton; Nusa Tenggara 69.755 ha produksi 23.617 ton; Jawa 61.657 ha produksi 26.171 ton; Maluku 46.318 ha produksi 15.894 ton; Papua 44.467 ha produksi 9.800 ton; Kalimantan 18.476 ha produksi 5.908 ton; Bali 13.623 ha produksi 4.802 ton.
Solusi integral kakao Indonesia adalah regulasi kebijakan yang kondusif yaitu perlindungan sentra kakao nasional yang berkelanjutan; ketersediaan input pertanian bagi petani; dukungan riset klon/varietas unggul. Perubahan perilaku petani dan pendampingan, ubah mindset petani bahwa perawatan adalah investasi bukan biaya; pendampingan lapangan untuk adopsi GAP. Peremajaan kebun kakao rakyat dengan fokus pada sentra utama produksi kakao; intervensi bersama melibatkan elemen utama (pemerintah-lembaga riset-sektor swasta-industri-organisasi kemasyarakatan).

