Jakarta, mediaperkebunan.id – Industri biofuel global menghadapi tantangan besar pada 2025-2026 dengan meningkatnya defisit minyak limbah dan minyak bekas pakai (used cooking oil/UCO). Ceras Analytics dalam 36th Palm & Lauric Oils Price Outlook Conference (POC 2025) memprediksi bahwa kekurangan ini akan meningkatkan ketergantungan pada minyak nabati dan Indonesia disebut berpotensi menjadi pemasok utama biofuel.
Khususnya, bagi minyak sawit yang berperan sebagai bahan baku utama dalam produksi biodiesel, renewable diesel (HVO), dan sustainable aviation fuel (SAF). Kondisi ini diprediksi akan mendorong harga minyak sawit naik secara signifikan di pasar global.
Menurut laporan Ceras Analytics dalam materinya di POC2025, pengumpulan minyak limbah global mengalami perlambatan sejak 2024, sementara permintaan biodiesel dan HVO terus meningkat di berbagai negara, termasuk Uni Eropa, AS, Brasil, dan Indonesia.
Peraturan ketat di Eropa dan Amerika Utara yang membatasi penggunaan bahan baku berbasis minyak sawit untuk biofuel juga memperumit pasokan minyak limbah sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Peningkatan Permintaan Biofuel Global saat Minyak Limbah Defisit
Kebutuhan global untuk biodiesel, HVO, dan SAF diperkirakan melonjak sebesar 8 juta metrik ton (Mt) pada 2025-2026. Eropa dan Inggris diprediksi akan mengalami peningkatan konsumsi biodiesel/HVO/SAF sebesar 2,5 Mt pada 2025 dan 1,3 Mt lagi pada 2026.
Namun, karena terbatasnya minyak limbah, negara-negara ini mungkin harus mencari alternatif lain, termasuk minyak sawit dan minyak nabati lainnya.
Uni Eropa saat ini bergantung pada minyak limbah dan bahan baku tingkat lanjut untuk memenuhi kebijakan biofuel mereka. Namun, pertumbuhan impor HVO/SAF telah mengimbangi penurunan biodiesel.
Di sisi lain, AS mengalami penurunan produksi sebesar 15% pada Q1 2025 akibat perubahan kebijakan subsidi biofuel. Tekanan pada stok Renewable Identification Number (RIN) diperkirakan akan mendorong kenaikan harga RIN dalam beberapa bulan mendatang, yang berpotensi meningkatkan permintaan bahan baku minyak nabati seperti minyak sawit dan kedelai.
Prospek Pasar Biofuel di Indonesia
Indonesia memiliki target ambisius dalam pengembangan biodiesel, dengan konsumsi diprediksi meningkat sebesar 2,1 Mt pada 2025-2026. Namun, pendanaan untuk subsidi biodiesel menjadi tantangan utama.
Jika pemerintah memperluas subsidi ke pengguna non-PSO, BPDPKS diperkirakan akan kehabisan dana pada Q3 2025. Alternatif lain seperti peningkatan pajak ekspor minyak sawit atau denda bagi perusahaan yang tidak mematuhi mandat biodiesel dapat menjadi strategi untuk menjaga stabilitas pasar minyak sawit domestik.
Produksi minyak sawit Indonesia diproyeksikan meningkat sebesar 2,2 Mt pada 2025, dengan potensi pertumbuhan lebih lanjut pada 2026. Sebaliknya, produksi Malaysia diperkirakan mengalami penurunan.
Hal ini dapat meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia sebagai bahan baku utama biofuel, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor. Selain itu, ketidakpastian pasokan minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari, akan semakin memperkuat posisi minyak sawit di pasar global.
Dengan defisit minyak limbah yang terus meningkat, peran minyak nabati, termasuk minyak sawit, semakin krusial dalam industri biofuel global. Kebijakan energi di berbagai negara akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar ini.
Para pelaku industri sawit dan biofuel harus siap menghadapi dinamika pasar yang cepat berubah serta mengoptimalkan strategi produksi dan distribusi untuk memanfaatkan peluang yang ada.

