Medan, mediaperkebunan.id – Kredit perbankan untuk industri perkebunan di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), baik untuk hulu maupun hilir, mengalami kenaikan yang signifikan secara tahunan atau year on year (yoy).
“Sampai Juni 2025, kredit investasi dari perbankan untuk perkebunan di Sumut sampai Juni 2025 tercatat sebesar Rp 44.4 triliun,” kata Khoirul Muttaqien selaku Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumut kepada para wartawan di Medan, Selasa (26/8/2025).
Menurut Khoirul Muttaqien, jumlah kenaikan kredit tersebut setara dengan 7,90 persen bila dibandingkan secara yoy pada periode yang sama atau Juni 2024.
Sementara itu, sambung Khoirul Muttaqien lagi, di saat yang sama bila dihitung dari mulai bulan Januari sampai bulan Juni atau paruh pertama 2025, kredit perbankan untuk subsektor perkebunan tumbuh sebesar 14.95 persen
“Dari total pertumbuhan itu, share terbesar kredit perbankan di Sumut adalah ke industri perkebunan dan pengolahan kelapa sawit sebanyak 94,43 persen,” ungkap Khoirul Muttaqien.
Lalu berikutnya, tutur Khoirul Muttaqien lebih lanjut, disusul kredit perbankan ke industri perkebunan dan pengolahan kopi di Sumut sebanyak 1,49 persen.
Selanjutnya, ia menyebutkan pertumbuhan kredit perbankan ke industri perkebunan karet di Sumut juga tumbuh, kali ini sebesar 1,49 persen, sama dengan pertumbuhan kredit untuk industri kopi.
“Selanjutnya disusul oleh kredit untuk industri perkebunan dan pengolahan cokelat di Provinsi Sumut sebesar 0, 34 persen dan ke industri perkebunan lainnya sebanyak 2,26 persen,'” tegas Khoirul Muttaqien.
Secara terpisah, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa sektor perbankan Indonesia menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah dinamika perekonomian dan politik global.
Dia bilang, kinerja perbankan diproyeksikan tetap stabil meskipun terdapat perlambatan pertumbuhan kredit yang sejalan dengan siklus ekonomi.
“Industri perbankan Indonesia masih menunjukkan resiliensi yang kuat dengan kinerja yang positif terhadap dinamika global yang terjadi,” kata Dian Ediana Rae.
Pada Juli 2025, beber Dian Ediana Rae, kredit perbankan nasional tetap tumbuh solid sebesar 7,03 persen bila dihitung secara tahunan atau yoy.
Menurut ya, situasi ini didukung pula oleh kualitas aset yang tetap baik dengan jumlah kredit macet perbankan atau non-performing loan (NPL) terjaga di level 2,28 persen dan Loan at Risk (LaR) menurun menjadi sebesar 9,68 persen.
Pertumbuhan kredit juga masih dibarengi dengan pertumbuhan kredit investasi yang meningkat 12,42 persen yoy dengan didorong oleh sektor berbasis ekspor seperti pertambangan dan perkebunan, serta transportasi, industri, dan jasa sosial.
“Pertumbuhan kredit tersebut masih sejalan dengan sektor yang menjadi penopang pertumbuhan di kuartal kedua 2025,” tegas Dian Ediana Rae selaku Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.

