Jakarta, mediaperkebunan.id – Di tengah dominasi kopi arabika dan robusta di pasar nasional maupun global, kopi liberika perlahan kembali mencuri perhatian. Salah satu varietas kopi liberika yang terkenal di Indonesia adalah kopi liberika sendoyan, kopi lokal khas dari Kalimantan Barat.
Kopi ini tumbuh subur di lahan gambut dataran rendah. Kopi liberika sendoyan bukan hanya sekedar komoditas tetapi merupakan bagian dari sejarah dan budaya masyarakat di Kalimantan Barat.
Kopi liberika (Coffea liberica) dikenal sebagai jenis kopi yang adaptif terhadap kondisi ekstrem termasuk tanah bergambut dan wilayah dataran rendah dengan kelembaban tinggi. Berbeda dengan arabika yang membutuhkan dataran tinggi dan suhu sejuk, liberika justru berkembang optimal di wilayah dengan ketinggian rendah seperti sebagian besar wilayah Kalimantan Barat.
Di Sambas, kopi liberika sendoyan telah lama dibudidayakan oleh masyarakat. Dilansir dari DetikFood, aktivitas penanaman kopi ini tercatat mulai berkembang sejak 1979, ketika hampir seluruh warga di beberapa desa menjadikan liberika sebagai tanaman utama. Saat itu, kopi liberika sendoyan menjadi salah satu sumber pendapatan andalan masyarakat disamping komoditas karet dan lada.
Salah satu daya tarik utama kopi liberika sendoyan terletak pada profil cita rasanya yang khas dan tidak umum. Kopi ini dikenal memiliki kombinasi aroma smoky (berasap) yang lembut, berpadu dengan aroma buah-buahan tropis dan kacang-kacangan. Dari sisi rasa, liberika sendoyan cenderung memiliki pahit yang kuat namun dengan tingkat keasaman yang rendah, sehingga terasa lebih ramah di lambung.
Kopi ini mempunyai aftertaste yang sering menghadirkan nuansa buah pisang matang dan nangka, dengan aroma harum khas buah tropis. Karakter fruity yang tebal inilah yang membuat kopi liberika sendoyan memiliki identitas tersendiri, berbeda dari kopi lain yang beredar di pasaran.
Selain faktor genetik, karakter rasa dan aroma tersebut juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan tumbuhnya terutama kondisi tanah gambut yang kaya bahan organik serta iklim lembap khas pesisir Kalimantan Barat.
Keunggulan lain dari kopi liberika sendoyan adalah kandungan kafeinnya yang relatif lebih rendah dibandingkan robusta. Hal ini menjadikan kopi ini lebih aman bagi konsumen yang memiliki sensitivitas lambung atau ingin menikmati kopi tanpa efek kafein yang terlalu kuat.
Dari sisi budidaya, kopi liberika juga dikenal relatif mudah dirawat dan tahan terhadap beberapa penyakit tanaman kopi. Tanaman ini memiliki sistem perakaran yang kuat dan mampu bertahan di lahan dengan tingkat keasaman tinggi seperti gambut yang umumnya kurang cocok untuk banyak tanaman pangan lainnya.
Secara ekonomi, kopi liberika sendoyan pernah memberikan kontribusi besar terhadap kesejahteraan petani Sambas. Namun, memasuki era 2000-an, pamor kopi ini mulai meredup. Banyak petani beralih ke komoditas lain seperti lada dan kelapa sawit yang pada saat itu menawarkan harga dan kepastian pasar yang lebih menarik. Akibatnya, produktivitas kopi liberika sendoyan menurun drastis. Banyak kebun kopi yang terbengkalai dan regenerasi petani kopi pun terhenti.
Upaya kebangkitan kopi liberika sendoyan mulai terlihat kembali pada Juni 2023, melalui Gerakan Tanam Kopi Liberika Sendoyan di Kabupaten Sambas. Program ini mendorong petani untuk kembali menanam dan merawat kopi lokal sebagai bagian dari penguatan ekonomi berbasis komoditas unggulan daerah.
Petani dan pelaku usaha lokal diberikan pendampingan untuk mengolah biji kopi menjadi produk bernilai tambah seperti kopi bubuk kemasan dengan merek sendiri. Strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan nilai jual kopi sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Seiring dengan meningkatnya tren kopi spesialti dan minat konsumen terhadap kopi unik berbasis asal-usul (single origin), kopi liberika sendoyan mulai menemukan kembali pasarnya. Biji kopi olahan dari Sambas kini menjadi pilihan di sejumlah kedai kopi di Kota Pontianak, bahkan mulai diperkenalkan ke luar daerah.
Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalimantan Barat, pada tahun 2023 luas areal kopi di Kalbar mencapai sekitar 12 ribu hektare dengan sebagian besar ditanami jenis liberika. Beberapa pelaku usaha kopi lokal bahkan telah mencoba mengenalkan kopi liberika Kalbar ke pasar luar negeri sebagai kopi eksotis yang berasal dari lahan gambut tropis.

