Kubu Raya, mediaperkebunan.id – Dua koperasi mitra anak perusahaan Musim Mas Group di Ketapang, Kalbar menyatakan senang bermitra dengan Musim Mas karena keterbukaan , membuat pendapatan petani melonjak. Hal ini dinyatakan Dalmatius Ipo, Ketua Koperasi Sawit Mentari Sejahtera mitra PT Mentari Prima dan Christop Muksin, Ketua Koperasi Delapan Pilar Maju Bersama mitra PT Lestari Abadi Perkasa, disela-sela 5th IPOSC.
Menurut Dalmatius Ipo , manajemen perusahaan sangat terbuka dengan koperasi sehingga kerjasama berlangsung baik tanpa kendala apapun. Koperasi Sawit Mentari Sejahtera mengkonsolidasi lahan anggotanya dengan HGU seluas 426 ha dengan jumlah petani 519 orang. Sekarang umur tanaman sawit sudah 9 tahun dan pendapatan bersih petani Rp2,5 juta/ha.
“Meskipun pengurus koperasi tidak mendapat gaji hanya insentif setiap ada kegiatan, kami senang dengan kerjasama yang baik, keterbukaan dan bangga dengan pendapatan anggota. Saya juga jadi anggota di koperasi lain yang bermitra dengan sebuah perusahaan , umur tanaman 16 tahun, pendapatan hanya Rp50.000/ha itu juga dana talangan,” katanya.
Hasil dari buah pasir selama 40 bulan diserahkan pada rekening koperasi dan sudah digunakan untuk membangun kantor koperasi Rp700 juta, gudang pupuk Rp300 juta dan jalan. Bupati Ketapang dua tahun lalu meresmikan kantor dan gudang pupuk dan menjadikan Koperasi Sawit Mentari Sejahtera sebagai koperasi percontohan di Ketapang.
Dana buah pasir ini tidak bisa digunakan kalau tidak ada persetujuan dari petani, pengurus koperasi dan manajemen perusahaan. Saldo awal buah pasir Rp12,630 miliar dan setelah digunakan untuk berbagai keperluan masih ada saldo Rp5 miliar.
“Inilah enaknya keterbukaan sehingga kami tidak dirongrong petani. RAT setiap tahun kami adakan dengan mengundang dinas koperasi. Pengurus koperasi sekitar sering berkunjung dan heran kenapa pendapatan kami bisa sebesar itu sedang mereka antara Rp50.000-350.000/h/bulan dan utangya masih banyak. Kami juga tidak tahu masalahnya dimana, hanya kemitraan dengan Musim Mas kami puas dan menyenangkan,” katanya.
Christop Muksin menyatakan koperasinya memiliki 940 anggota dengan luas HGU 975 ha. Pendapatan bersih petani Rp2,5 juta/ha/bulan. Pendapatan sebesar ini menurutnya sangat luar biasa jika dibandingkan dengan kemitraan perusahaan lain disektarnya “Seperti Pak Dalmatius saya juga tidak digaji, hanya ada insentif kegiatan dari perusahaan. Tetapi kami tidak menutut banyak karena bekerja untuk anggota dan pendapatan sebesar itu bila dibanding koperasi lain sangat membanggakan,” katanya.
Dana buah pasir Koperasi Gerakan Pilar Maju Bersama sebesar Rp20 milar sesusai pertuntukkannya bukan dibagikan pada anggota tetapi menjadi dana cadangan koperasi. Misalnya bila terjadi paceklik maka dana digunakan untuk membeli pupuk.
Kebun dibangun dan dikelolaMusim Mas dengan perjanjian kontrak. Menurut Dalmatius itu adalah pilihan terbaik karena kalau koperasi sendiri yang mengelola belum tentu hasilnya bisa optimal. Dua koperasi ini jadi percontohan dan sering dijadikan tempat studi banding.
Mengenai 5th IPOSC, Dalmatius mengakui senang karena Musim Mas ikut jadi sponsor. Materi yang diberikan juga luar biasa menambah wawasan. “Saya baru tahu ada program pemerintah untuk Sarana Prasarana kita bisa mengajukan bantuan pada pemerintah. Kita di Ketapang tidak terinfo soal ini. Tadi malam kami ditelpon pihak perusahaan bagaimana acaranya, kami bilang sangat bagus dan bermanfaat,” katanya.

