Medan, mediaperkebunan.id – Pengendalian penyakit Ganoderma pada tanaman kelapa sawit harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi. Upaya parsial dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman Ganoderma boninense yang semakin meluas, terutama di kebun sawit generasi lanjut.
Menurut Ir. Indra Syahputra, MP selaku Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia/GAPKI/ Kepala SSPL PT. Socfin Indonesia, pendekatan Integrated Ganoderma Management (IGM) menjadi kunci utama dalam menyelamatkan produktivitas sawit nasional. Kesehatan tanah merupakan fondasi pada pendekatan IGM yang dimulai dari penggunaan bahan tanam yang tepat, penerapan kultur teknis yang benar, hingga pengendalian dini saat serangan mulai terdeteksi.
“Saat replanting, seluruh akar, jaringan tanaman, dan sisa bahan organik yang terinfeksi harus dibongkar secara tuntas untuk melemahkan sumber inokulum di dalam tanah,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa Ganoderma boninense memiliki kemampuan bertahan dalam kondisi dorman selama bertahun-tahun. Ketika kembali menemukan sumber makanan seperti lignin, patogen ini dapat aktif kembali dan menyerang tanaman. Oleh karena itu, disiplin dalam penerapan kultur teknis dinilai mampu menekan risiko kebangkitan Ganoderma.
Selain sanitasi kebun, pemanfaatan mikroba tanah juga menjadi bagian penting dari strategi pengendalian terpadu. Namun Indra menekankan bahwa tidak semua mikroba yang beredar di lapangan efektif. “Salah satu tugas konsorsium yang sedang dilakukan adalah melakukan screening terkait dengan produk mikroba, memastikan mikroba yang digunakan benar-benar menyehatkan tanah dan menciptakan ekosistem yang tidak mendukung perkembangan Ganoderma,” ujarnya.
Dalam menjalankan perannya, Konsorsium Ganoderma Indonesia juga mendorong kolaborasi antarpelaku industri melalui penguatan basis data serangan Ganoderma. Pemetaan kondisi lapangan dinilai penting untuk merumuskan strategi pengendalian yang lebih tepat sasaran. Namun demikian, Indra mengakui masih terdapat tantangan berupa keengganan sebagian perusahaan untuk membuka data secara transparan.
“Musuh kita sama, yaitu Ganoderma boninense. Karena itu, kita harus bersatu. Konsorsium hadir untuk menyatukan langkah, memperkuat pohon, dan menyehatkan tanah,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa meskipun gaung konsorsium sudah dikenal hingga luar negeri, termasuk Malaysia, tantangan terbesar masih berada di dalam negeri terutama dalam membangun kesadaran dan dukungan kebijakan.
Konsorsium Ganoderma Indonesia akan berpartisipasi dalam 3rd ISGANO (International Symposium Ganoderma) 2026 Conference and Exhibition yang akan diselenggarakan pada 10–11 Februari 2026 di Hotel Adimulia Medan. Ir. Indra Syahputra, MP selaku ketua akan membawakan topik “Update Serangan dan Pengendalian Ganoderma di Indonesia”, yang akan mengulas kondisi terkini, tantangan lapangan, serta strategi pengendalian berbasis pengalaman nyata di kebun komersial. ISGANO 2026 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat langkah bersama dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan industri kelapa sawit nasional.
Untuk pendaftaran dapat mengunjungi isgano.com atau menghubungi contact person berikut (+62) 812 8718 2301 (Ika), (+62) 811 1078 02 (Sekretariat), (+62) 812 8169 8248 (Kevin).

