Jakarta, mediaperkebunan.id – Kakao merupakan komoditas terluas yang diusahakan masyarakat Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Luas tahun 2024 menurut data BPS tahun 2024 79.290 ha dengan produksi 65.000 ton biji kakao.
“Karena itu program pemerintah kabupaten baik ketika saya menjadi bupati periode pertama tahun 2017-2022 dan periode kedua 2024-2029 prioritas adalah revitalisasi / peremajaan kakao untuk mengisi dompet sebagian besar masyarakat Kolaka Utara,” kata Nur Rahman Umar, Bupati Kolaka Utara pada peringatan Hari Kakao.
Hambatannya adalah masyarakat tidak percaya kalau kakao mampu memberikan kesejahteraan. Masa jaya kakao di Kolaka Utara terjadi tahun 1997-2006, ketika itu produksi tinggi, harga tinggi.
Tetapi ketika Nur Rahman jadi bupati periode pertama mulai menurun yaitu tanaman menua/tidak produktif seluas 43.000 ha, produksi tahun 2017 18.500 ton, produktivitas 230 kg/ha, regenerasi petani lambat sekitar 80% petani tua, harga stagnan tahun 2018 Rp27.000/kg dan perlahan naik, padahal harga komoditas lain sedang tinggi.
“Petani juga tidak percaya bantuan pemerintah sebab gernas kakao tanamanya cepat rebah, buahnya semakin mengecil. Petani banyak yang beralih ke sawit. Saya minya supaya tetap mempertahankan kakao karena harganya pasti akan naik kembali. Sekarang terbukti, masyarakat yang masih punya kakao senyum karena harganya tinggi,” katanya.
Pada periode pertama dilakukan revitalisasi/peremajaan seluas 18.150 ha Masyarakat mendapat benih dan pupuk gratis. Ketika TBM diberi bantuan benih jagung. Ada 5 profesor Unhas ahli kakao yang dibayar mahal untuk mendampingi petani sehingga dihasilkan 100 dokter kakao yang memberi edukasi pada masyarakat.
Jumlah kelompok tani 516, petani yang diberdayakan 11.912 orang dengan jumlah masyarakat 35.736 orang, produksi 65.000 ton, produktivitas 1,2 ton/ha. Harga naik sampai Rp150.000/kg pada April 2025 dan sekarang Rp70.000-80.000/kg, masih menguntungkan. Pendapatan dan kesejahteraan mereka semakin meningkat.
Pada periode 2 sebaga bupati Nur Rahman akan melakukan revitalisasi seluas 12.000 ha juga integrasi dengan program hilirisasi Ditjenbun Kementan. “Dengan produksi sebesar 65.000 ton, mampu memenuhi kebutuhan 19,8% kebutuhan biji kakao nasional. Kami mentargetkan pembangunan pabrik pengolahan kakao skala menengah. Sangat layak bagi investor untuk membangun pabrik pengolahan sebab bahan baku tersedia,” katanya.

