Jakarta, mediaperkebunan.id – Bumitama terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pengelolaan hutan berbasis masyarakat melalui pengembangan ekowisata di Kalimantan Barat. Dua desa binaan, yaitu Simpang Tiga Sembelangaan dan Nibung, kini menjadi contoh bagaimana konservasi dan ekonomi lokal dapat tumbuh berdampingan.
Di Desa Simpang Tiga Sembelangaan, masyarakat mengelola Air Terjun Batu Hitam melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD). Sejak tahun 2021, Bumitama mendampingi masyarakat melalui pelatihan, dukungan infrastruktur dasar, dan penanaman pohon buah di sekitar kawasan ekowisata. Fasilitas seperti akses jalan dan area rekreasi telah meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga. “Dukungan Bumitama membantu kami memperbaiki fasilitas dan membuat kawasan ini lebih tertata,” ujar Sony Martinus, anggota LPHD setempat. “Kami ingin Batu Hitam menjadi kebanggaan desa sekaligus menjaga hutan agar tetap lestari.”

Selain menjadi tempat wisata alam, Batu Hitam juga dirancang untuk mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan sebagai aset jangka panjang. LPHD kini tengah menjajaki pengembangan energi mikrohidro yang memanfaatkan aliran sungai untuk kebutuhan listrik desa.
Sementara itu, di Desa Nibung, Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Nibung Lestari mengelola kawasan air terjun di Dusun Sebuak sebagai agrowisata berbasis konservasi. Didirikan pada tahun 2022, inisiatif ini berawal dari dorongan untuk mencegah perambahan hutan desa dan memberikan alternatif ekonomi bagi masyarakat.
Ketua KUPS, Marsila, menceritakan bagaimana ide tersebut muncul dari pengalaman masa lalu ketika kebakaran besar pada 2005 menghanguskan sebagian besar hutan di sekitarnya. “Sejak itu, saya berjanji tidak akan membiarkan hutan ini rusak lagi. Tapi melarang saja tidak cukup, kami perlu cara agar warga bisa ikut menjaga dengan rasa memiliki,” ujarnya.
Melalui dukungan Bumitama dan IDH, KUPS Nibung Lestari membangun jalur trekking, gazebo, loket tiket, serta area istirahat bagi pengunjung. Kawasan ini kemudian berkembang pesat, menarik minat wisatawan lokal hingga dari luar kecamatan.
Antusiasme tersebut membawa dampak ekonomi yang nyata: sejak April 2024 hingga Juni 2025, pendapatan dari tiket wisata mencapai sekitar Rp95 juta, sebagian digunakan untuk kegiatan sosial dan pemeliharaan area wisata. “Dulu hutan sering dianggap hanya tempat mencari hasil alam,” kata Marsila, Ketua KUPS Nibung Lestari. “Sekarang kami melihatnya sebagai peluang. Wisata ini membuat kami lebih peduli dan bangga menjaga lingkungan.”
Meski masih terus berbenah, masyarakat Nibung optimis dapat mengembangkan kawasan ini lebih jauh. Rencana berikutnya adalah pembuatan kebun petik buah, agar pengunjung dapat belajar tentang tanaman lokal sambil menikmati hasil alam secara langsung. “Kami menyebutnya agrowisata karena ingin suatu saat ada kebun yang bisa dikunjungi dan dinikmati bersama,” jelas Marsila.
Inisiatif di Batu Hitam dan Nibung Lestari mencerminkan pendekatan kolaboratif Bumitama dalam mendukung keseimbangan antara produksi dan perlindungan. Dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama konservasi, Bumitama berperan sebagai mitra yang menyediakan infrastruktur, pelatihan, dan pendampingan teknis untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Bumitama dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan, yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, konservasi hutan, serta pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di sekitar wilayah operasional perusahaan.

